17 August 2026

Get In Touch

Wagub dan Istri Kenakan Pakaian Adat Dayak Kenyah Saat Upacara Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI

Wagub Emil Elestianto Dardak dan Arumi Bachsin mengenakan pakaian adat khas Dayak Kenyah dari Kalimantan Timur saat Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Gedung Negara Grahadi, Senin (17/8/2026)
Wagub Emil Elestianto Dardak dan Arumi Bachsin mengenakan pakaian adat khas Dayak Kenyah dari Kalimantan Timur saat Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Gedung Negara Grahadi, Senin (17/8/2026)

SURABAYA (Lentera) - Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak dan Arumi Bachsin tampil berbeda saat menghadiri  Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di Halaman Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (17/8/2026). Mereka mengenakan pakaian adat khas Dayak Kenyah dari Kalimantan Timur.

"Kita ingin ini menjadi kesempatan untuk mengeksplor dan mensyukuri khasanah budaya yang ada di Nusantara kita," kata setelah upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81. 

Kehadiran Wagub Emil beserta istri yang mengenakan pakaian adat khas Dayak Kenyah sempat menjadi perhatian warga saat upacara tersebut. Penampilan mereka nampak berbeda dengan penampilan undangan dan masyarakat lainnya.

Pakaian adat khas Dayak Kenyah dari Kalimantan Timur, yang untuk laki-laki dikenal dengan sebutan Sapei Sapaq, sedangkan untuk wanita disebut Ta'a. Baik Sapei Sapaq dan Ta'a sama-sama menggunakan Hiasan Kepala (Lavung) yang dihiasi bulu burung enggang (Hornbill) dan bulu burung merak/kuau.

Saat mengenakan pakaian tersebut, Wagub Emil mengaku sempat merasa goyang di hiasan kepala saat terkana angin. "Jadi kita kepalanya agak kita giniin kalau anginnya kencang. Harusnya kan diikat ketat ya, cuma tadi enggak sempat inikan talinya, jadi kita pakai tanpa tali. Jadi tadi angin lumayan ya," katanya menjelaskan.

Arumi Bachsin mengaku pakaian tersebut berasal dari Kalimantan Timur langsung. "Iya, karena kita juga enggak mau sampai kita pakai ternyata pakemnya salah atau apa. Itu kan yang tadinya memang menghargai malah jadi tersinggung. Jadi untuk amannya memang kita langsung dari Kaltim semua," katanya.

Emil mengakui dengan mendatangkan langsung dari Kalimantan Timur  maka akan semakin mempererat persahabatan, persaudaraan dengan saudara-saudara yang ada di Kalimantan. 

Pakaian inipun punya filosofi cukup dalam. Melansir genpi.id, Sapei Sapaq dengan motif harimau menggambarkan keberanian, ketangguhan, keperkasaan, serta kewibawaan seorang pemimpin atau ksatria Dayak. Sedangkan hiasan kepala yang dihiasi bulu burung enggang dan bulu burung merak melambangkan keagungan, kehormatan, serta hubungan antara manusia dengan alam dan Sang Pencipta. 

Sedangkan pada Ta'a dengan warna merah melambangkan keberanian, kuning melambangkan keagungan/kejayaan, dan hitam melambangkan kedalaman serta keteguhan jiwa. Sedangkan Hiasan Kepala berupa manik-manik melingkar dan bulu burung enggang, melambangkan keanggunan, kesucian, dan penghormatan tinggi terhadap kaum wanita sebagai penjaga tradisi.

Sehingga, filosofi keseluruhan pakaian adat ini bukan sekadar busana estetis, melainkan wujud rasa syukur, penghormatan terhadap alam semesta, dan simbol persatuan serta harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. Penggunaan bahan alam (bulu burung, taring, kayu) dan kerajinan manik-manik yang memakan waktu lama mencerminkan kesabaran, kearifan lokal, serta kebanggaan atas warisan budaya Nusantara. (*)

Editor: Lutfiyu Handi
 

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.