21 August 2026

Get In Touch

Pemkab Malang Perkuat Wisata Alternatif, Tak Hanya Bertumpu pada Bromo

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang, Firmando H Matondang. (Santi/Lentera)
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang, Firmando H Matondang. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang memperkuat destinasi wisata alternatif, agar kunjungan wisatawan tak hanya bertumpu pada Gunung Bromo.

Upaya ini menjadi perhatian setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sempat berdampak pada akses dan aktivitas pariwisata, sebelum kawasan wisata tersebut resmi dibuka kembali pada, Kamis (20/8/2026).

"Bromo memang menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Malang. Tetapi Malang tidak hanya memiliki Bromo. Kita memiliki beragam potensi wisata lainnya yang harus terus diperkuat, dikembangkan dan dipromosikan sebagai alternatif kunjungan wisata," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Firmando H. Matondang, Kamis (20/8/2026).

Disebutkannya, data kunjungan wisatawan Kabupaten Malang sepanjang 2025 tercatat sekitar 5 juta kunjungan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 272.870 wisatawan berkunjung ke Gunung Bromo melalui pintu masuk wilayah Kabupaten Malang, dengan sekitar 9.950 di antaranya merupakan wisatawan mancanegara.

Besarnya arus kunjungan tersebut, memperlihatkan posisi Bromo sebagai salah satu magnet utama pariwisata Kabupaten Malang. Di sisi lain, peristiwa karhutla yang sempat menyebabkan penutupan akses wisata Bromo menjadi momentum untuk melihat kembali pentingnya keberadaan destinasi lain sebagai pilihan wisatawan.

"Penutupan seluruh akses kawasan Bromo sempat diberlakukan di sejumlah pintu masuk, termasuk Jemplang dan Coban Trisula di wilayah Kabupaten Malang, turut terdampak," tuturnya.

Mando mengatakan, Pemkab Malang telah mengklasterkan sejumlah kekuatan destinasi berdasarkan wilayah. Selain kawasan Bromo, pengembangan diarahkan ke Malang Selatan, Malang Timur, Malang Utara hingga kawasan lereng Gunung Kawi.

"Kami sudah mencoba mengklasterkan destinasi wisata. Selain Bromo, kami punya kekuatan di Malang Selatan, termasuk Coban Sewu, kemudian Malang Timur, Malang Utara dan kawasan lereng Gunung Kawi. Potensi-potensi ini yang sekarang terus kita dorong agar semakin dikenal dan menjadi pilihan wisatawan," jelasnya.

Pengembangan destinasi alternatif, kata Mando, tidak hanya berkaitan dengan memperbanyak pilihan lokasi wisata. Pemkab Malang juga berupaya membangun pengalaman wisata yang lebih lengkap dengan mengembangkan akomodasi, kuliner, budaya serta produk ekonomi kreatif yang berada di sekitar destinasi.

Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Gunung Kawi dan destinasi di sekitarnya. Pengembangan kawasan wisata ritual tersebut diarahkan agar wisatawan tidak hanya menikmati potensi alam, tetapi juga memperoleh pengalaman yang terhubung dengan kehidupan dan produk masyarakat setempat.

Selain wisata alam, seni dan budaya juga dinilai dapat menjadi kekuatan untuk memperluas daya tarik pariwisata Kabupaten Malang. Wayang Topeng Malangan dan kisah Panji, misalnya, memiliki unsur cerita dan nilai budaya yang dapat dikemas menjadi bagian dari pengalaman wisata.

"Bukan hanya destinasi yang kita jual, tetapi juga kesenian dan cerita yang menjadi kekuatan Kabupaten Malang. Wayang Topeng Malangan sebagai warisan budaya takbenda kita coba hadirkan di destinasi-destinasi wisata," ungkap Mando.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk datang dan tinggal lebih lama di Kabupaten Malang. Dengan demikian, manfaat ekonomi dari sektor pariwisata juga dapat tersebar ke lebih banyak wilayah dan pelaku usaha.

 

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.