SURABAYA ( LENTERA ) - Bulu mata kini bukan sekadar pelengkap riasan. Di era filter digital, anime, dan kecerdasan buatan (AI), sepasang bulu mata bahkan bisa menjadi bagian penting dari identitas visual seseorang.
Salah satu gaya yang kembali mencuri perhatian adalah spider lashes. Sesuai namanya, bulu mata dibuat tebal, panjang, sangat lentik, lalu dikelompokkan dalam beberapa bagian sehingga tampak menyerupai kaki laba-laba.
Gaya ini juga dikenal sebagai manga lashes atau doll lashes. Berbeda dari teknik maskara konvensional yang berusaha memisahkan setiap helai agar tidak menggumpal, spider lashes justru sengaja menciptakan efek menggumpal.
Caranya relatif sederhana. Bulu mata terlebih dahulu dijepit, kemudian maskara diaplikasikan berulang kali. Bedak tabur dapat digunakan di antara lapisan untuk membantu menambah volume dan membuat maskara lebih menempel.
Beberapa helai bulu mata kemudian dibiarkan saling melekat. Hasilnya adalah kelompok-kelompok bulu mata tebal yang terlihat dramatis ketika mata dibuka.
Tren ini bukan sesuatu yang benar-benar baru. Pada 2023, penyanyi Dua Lipa sempat menarik perhatian lewat unggahan yang menampilkan bulu mata bagian bawah dengan bentuk menyerupai kaki laba-laba.
Belakangan, gaya serupa juga muncul pada sejumlah selebritas, termasuk Zendaya, Selena Gomez, Anya Taylor-Joy, hingga model Iris Law.
Iris Law bahkan tampil dengan versi spider lashes yang dibuat lebih gelap dan bernuansa gothic ketika menghadiri peragaan koleksi musim gugur Givenchy.
Dari Anime ke Filter AI
Popularitas spider lashes tidak bisa dilepaskan dari budaya visual yang berkembang di internet.
Sara Edward Wayne, makeup artist sekaligus pemilik Outlaw Cosmetics, menjelaskan bahwa popularitas anime, AI, aplikasi, dan filter media sosial ikut memengaruhi perkembangan tren bulu mata.
Hubungannya cukup mudah dilihat.
Dalam manga dan anime, karakter perempuan kerap digambarkan dengan mata besar serta bulu mata panjang dan lentik. Karakter semacam itu kemudian menjadi referensi visual dalam makeup, fotografi, hingga filter media sosial.
Teknologi digital memperkuat efek tersebut.
Filter wajah dapat memperbesar mata, menambahkan bulu mata, mengubah bentuk iris, sekaligus menciptakan tampilan wajah yang sulit dicapai secara alami. AI kemudian membawa estetika tersebut lebih jauh dengan menghasilkan wajah sintetis yang sejak awal dirancang berdasarkan standar visual tertentu.
Dalam konteks itu, spider lashes menjadi lebih dari sekadar teknik memakai maskara. Ia merupakan bagian dari bahasa visual yang semakin dipengaruhi dunia digital.
Obsesi terhadap bulu mata panjang sebenarnya jauh lebih tua daripada TikTok, Instagram, atau AI.
Dalam berbagai kebudayaan, bulu mata panjang dan gelap telah lama dikaitkan dengan kecantikan. Bahkan, masyarakat Mesir Kuno menggunakan kohl untuk mempertegas mata.
Penggunaan kohl tidak semata-mata berkaitan dengan estetika. Celak juga digunakan untuk membantu melindungi mata dari lingkungan gurun yang panas dan berdebu serta memiliki makna spiritual.
Dalam kebudayaan Tiongkok kuno, bulu mata panjang dan gelap juga dikaitkan dengan perlindungan dari energi negatif dan kemakmuran.
Terlepas dari berbagai kepercayaan tersebut, secara biologis bulu mata memang memiliki fungsi penting.
Bulu mata membantu melindungi mata dari debu dan partikel asing. Rambut-rambut kecil tersebut juga membantu mengurangi penguapan air dari permukaan mata sehingga membantu menjaga kelembapan mata.
Jadi, ketertarikan manusia terhadap bulu mata bukan sepenuhnya soal estetika. Ada fungsi biologis yang membuatnya menjadi bagian penting dari wajah.
Anggapan bahwa bulu mata panjang membuat wajah terlihat lebih menarik juga mendapat dukungan dari penelitian.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Vision pada 2018 menemukan bahwa bulu mata merupakan salah satu fitur visual yang berperan dalam penilaian daya tarik wajah perempuan.
Mayoritas responden dalam penelitian tersebut menilai wajah dengan bulu mata yang lebih panjang dan lentik sebagai lebih menarik.
Marianne LaFrance, profesor psikologi serta studi gender dan seksualitas di Yale University, juga pernah menjelaskan kepada The Cut bahwa fungsi kosmetik bulu mata memiliki kemiripan dengan lipstik.
Bulu mata dapat menciptakan kontras antara mata dan kelopak, sebagaimana lipstik menciptakan kontras antara bibir dan area wajah di sekitarnya.
Dengan kata lain, makeup tidak selalu bertujuan mengubah wajah secara keseluruhan. Kadang, perubahan pada satu bagian kecil justru dapat mengubah persepsi terhadap seluruh wajah.
Ada Cara yang Jauh Lebih Ekstrem
Keinginan membuat bulu mata terlihat lebih panjang juga bukan fenomena modern.
Pada abad ke-19 di Paris, pernah berkembang metode yang jauh lebih ekstrem untuk memperpanjang bulu mata. Rambut kepala dijahitkan pada bagian kelopak mata.
Metode tersebut tentu terdengar mengerikan jika dibandingkan dengan teknik makeup modern.
Perkembangan berikutnya terjadi pada 1911. Pejabat kecantikan asal Kanada, Anna Taylor, mematenkan salah satu desain bulu mata palsu.
Bulu mata buatan tersebut dibuat dari rambut yang ditempelkan pada material berbentuk bulan sabit sebelum dipasang pada kelopak mata.
Tokoh lain yang berperan dalam sejarah bulu mata palsu adalah Maksymilian Faktorowicz, pengusaha kecantikan asal Polandia yang kemudian dikenal melalui merek Max Factor.
Bulu mata palsu semakin populer setelah muncul dalam majalah mode Vogue pada era 1930-an.
Sejak saat itu, bulu mata palsu perlahan berubah dari aksesori eksperimental menjadi bagian dari industri kosmetik.
Yang berubah sekarang adalah cara manusia membentuk standar kecantikan.
Dulu, majalah mode dan televisi menjadi sumber utama referensi. Kini, inspirasi datang dari anime, Instagram, TikTok, filter kamera, influencer, selebritas, hingga gambar yang sepenuhnya dihasilkan AI.
AI bahkan memungkinkan seseorang menciptakan wajah yang tidak pernah benar-benar ada.
Mata bisa dibuat lebih besar. Bulu mata bisa dibuat lebih panjang. Bentuk wajah dapat disesuaikan. Kulit dapat dibuat nyaris tanpa tekstur.
Semakin sering gambar semacam itu dikonsumsi, semakin mudah pula standar visual tersebut dianggap normal.
Di sinilah spider lashes menjadi menarik.
Gaya tersebut sebenarnya menggunakan teknik sederhana untuk menghasilkan sesuatu yang secara visual terlihat tidak sepenuhnya natural. Bulu mata sengaja dibuat menggumpal, panjang, tebal, dan dramatis.
Namun, estetika yang dahulu mungkin dianggap berlebihan kini justru dapat terlihat akrab karena pengguna internet sudah terbiasa melihat karakter anime dan wajah digital dengan fitur serupa.
Ada ironi dalam spider lashes.
Dalam makeup konvensional, maskara yang menggumpal sering dianggap sebagai kesalahan. Bulu mata yang saling menempel biasanya harus dipisahkan.
Spider lashes membalik aturan tersebut.
Gumpalan justru menjadi tujuan.
Bulu mata yang terlalu tebal bukan lagi masalah. Helai yang menyatu bukan lagi kegagalan aplikasi maskara. Semua itu sengaja dibuat untuk menghasilkan siluet tertentu.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana tren kecantikan bekerja: sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak ideal dapat berubah menjadi estetika ketika dipopulerkan oleh figur publik, media, atau komunitas digital.
Dari kohl Mesir Kuno, bulu mata palsu abad ke-20, karakter manga, makeup selebritas, hingga filter AI, manusia terus mencari cara untuk membuat mata terlihat lebih besar, lebih tegas, dan lebih menarik.
Teknologinya berubah.Standarnya terus bergerak.Tetapi obsesinya tetap sama: membuat mata menjadi bagian wajah yang paling sulit untuk diabaikan.(far,ist/dya)




.jpg)
