SURABAYA ( LENTERA ) - Kalung merupakan salah satu aksesori yang dapat mengubah tampilan tanpa harus mengubah keseluruhan busana. Perbedaan panjang, bentuk, material, dan cara mengenakannya dapat menghasilkan kesan yang berbeda, mulai dari sederhana dan kasual hingga formal dan elegan.
Karena itu, memilih kalung bukan sekadar persoalan model yang sedang populer. Bentuk leher, garis kerah pakaian, kesempatan penggunaan, hingga aksesori lain yang dikenakan dapat menentukan apakah sebuah kalung terlihat menyatu atau justru terlalu dominan.
Perkembangan mode juga membuat batas antara perhiasan klasik dan aksesori kontemporer semakin cair. Choker, misalnya, tidak lagi identik dengan gaya tertentu pada dekade 1990-an. Vogue mencatat model tersebut terus kembali dalam berbagai bentuk dan material, dari pita hingga logam dan berlian.
Sementara itu, kalung mutiara yang selama bertahun-tahun diasosiasikan dengan gaya formal kini juga hadir dalam desain yang lebih modern. Vogue mencatat mutiara dapat dikenakan dalam berbagai bentuk, termasuk choker, kalung berlapis, liontin, dan desain yang lebih eksperimental.
Berikut tujuh jenis kalung yang penting dikenali sebelum memilih aksesori untuk melengkapi penampilan.
Choker
Choker merupakan kalung berukuran pendek yang dikenakan mengikuti lingkar pangkal leher. Dalam bahan awal, panjang choker umumnya berada di kisaran 35–40 sentimeter.
Model ini memberikan perhatian lebih pada area leher dan tulang selangka. Karena itu, choker kerap dipadukan dengan pakaian yang memiliki garis leher terbuka.
Namun, penggunaannya tidak terbatas pada satu gaya. Choker dapat menjadi aksesori tunggal maupun bagian dari tampilan berlapis.
Sejarah fashion menunjukkan bahwa choker telah muncul dalam berbagai bentuk selama beberapa periode. Vogue mencatat aksesori yang melekat dekat dengan leher tersebut pernah hadir dalam bentuk pita, manik-manik, hingga model plastik yang populer pada era 1990-an. Kini, choker tetap menjadi bagian dari koleksi perhiasan sejumlah desainer.
Untuk penampilan yang lebih sederhana, choker berdesain tipis dapat menjadi pilihan. Sementara model dengan rantai besar atau detail batu dapat berfungsi sebagai aksesori utama.
Pemilihan choker juga perlu memperhatikan panjang leher. Marie Claire, mengutip penata gaya, menyebut choker dapat menciptakan ilusi leher terlihat lebih pendek. Karena itu, pemilik leher yang relatif pendek dapat mempertimbangkan kalung dengan ukuran sedikit lebih panjang.
Kalung Mutiara
Kalung mutiara merupakan salah satu bentuk perhiasan klasik yang tetap bertahan dalam perkembangan mode.
Mutiara dapat memberikan kesan elegan tanpa harus selalu tampil formal. Saat ini, desainnya semakin beragam, mulai dari satu untaian sederhana hingga model berlapis dan kombinasi dengan logam atau batu permata.
Vogue mencatat kalung mutiara telah dikenakan oleh berbagai ikon mode selama beberapa dekade. Namun, persepsi terhadap mutiara juga berubah. Aksesori tersebut tidak lagi hanya diasosiasikan dengan busana formal atau gaya konservatif. Desainer kini menghadirkannya dalam bentuk yang lebih modern dan eksperimental.
Kalung mutiara dapat dipadukan dengan blouse, kemeja, blazer maupun gaun. Untuk tampilan yang lebih kontemporer, mutiara juga dapat dipertemukan dengan pakaian kasual.
Sejumlah selebritas bahkan mengenakan mutiara bersama pakaian yang lebih santai. Vogue mencatat perkembangan tersebut sebagai bagian dari upaya mengubah citra mutiara menjadi aksesori yang lebih fleksibel.
Kalung Liontin
Kalung liontin merupakan model yang menggunakan rantai sebagai dasar dengan sebuah ornamen utama yang menggantung di bagian depan.
Keunggulan model ini terletak pada variasi liontinnya. Bentuknya dapat berupa simbol, huruf, batu permata, benda sentimental, hingga desain geometris.
Karena rantainya dapat dibuat sederhana, perhatian utama biasanya diarahkan kepada liontin.
Model ini juga relatif mudah digunakan dalam berbagai kesempatan. Kalung dengan liontin kecil dapat digunakan sehari-hari, sementara liontin dengan material atau desain lebih menonjol dapat menjadi bagian dari busana formal.
Vogue masih menempatkan pendant necklace atau kalung liontin sebagai salah satu bentuk dasar dalam koleksi perhiasan modern. Dalam perkembangan tren perhiasan 2026, model liontin juga kerap ditempatkan sebagai salah satu bagian dari kombinasi kalung berlapis. .
Bagi pengguna yang ingin menggunakan kalung sebagai penanda personal, model liontin memberikan ruang paling luas untuk memilih simbol atau bentuk yang memiliki arti tertentu.
Kalung Tennis
Kalung tennis merupakan model yang menampilkan deretan batu atau permata yang tersusun sepanjang kalung. Model klasiknya identik dengan berlian, meskipun saat ini tersedia pula berbagai variasi batu dan material.
Kalung ini menghasilkan efek berkilau dan relatif formal sehingga sering dipilih untuk acara malam atau kesempatan khusus.
Istilah “tennis” sendiri berkaitan dengan sejarah tennis bracelet, yang kemudian berkembang menjadi berbagai jenis perhiasan, termasuk kalung. Vogue mencatat bahwa setelah popularitas tennis bracelet, konsep tersebut berkembang menjadi tennis necklace berupa untaian batu yang memanjang dan dikenakan menyerupai kalung pendek.
Dalam perkembangan fashion saat ini, tennis necklace tidak hanya digunakan dalam acara formal. Model tersebut juga mulai dipadukan dengan kalung sederhana untuk menciptakan tampilan berlapis.
Marie Claire mencatat kalung tennis dapat digunakan sebagai bagian dari jewelry stack, misalnya dengan memadukannya dengan kalung liontin berukuran lebih sederhana.
Meski demikian, karena tennis necklace sudah memiliki detail yang cukup kuat, aksesori pendamping sebaiknya dipilih dengan ukuran dan desain yang tidak saling bersaing.
Kalung Lariat
Lariat memiliki karakteristik yang berbeda dari kalung konvensional. Model ini umumnya tidak menggunakan pengait tradisional dan memiliki bentuk menyerupai huruf Y.
Salah satu bagian kalung dibiarkan menjuntai ke bawah sehingga menciptakan garis vertikal di bagian depan tubuh.
Desain tersebut membuat lariat cocok dipadukan dengan pakaian berpotongan V-neck, wrap dress, atau busana dengan bagian dada yang relatif terbuka.
Vogue juga memasukkan lariat sebagai salah satu model utama dalam perkembangan perhiasan modern. Karakter desainnya yang memanjang membuat perhatian tertuju pada area leher dan dada.
Lariat juga dapat digunakan sebagai bagian dari tampilan berlapis. Namun, karena bentuknya sudah cukup khas, pengguna perlu memperhatikan agar kalung lain tidak menutupi bagian utama desain.
Kalung Berlapis
Kalung berlapis atau layered necklace merupakan gaya mengenakan beberapa kalung dengan panjang, bentuk, atau material berbeda secara bersamaan.
Tidak seperti lima model sebelumnya yang terutama merujuk pada bentuk satu kalung, layered necklace lebih tepat dipahami sebagai teknik styling.
Beberapa kalung dapat dibeli dalam satu set dengan panjang yang sudah disusun. Alternatif lainnya adalah menggabungkan koleksi pribadi dengan memilih kalung yang memiliki jarak panjang berbeda.
Tujuannya adalah menciptakan dimensi pada bagian leher dan dada.
Marie Claire menyarankan penggunaan panjang kalung yang berbeda untuk menghasilkan tampilan berlapis yang lebih terstruktur. Perbedaan panjang membantu masing-masing kalung tetap terlihat dan tidak bertumpuk pada satu titik.
Teknik ini juga memungkinkan kombinasi antara material dan karakter berbeda. Kalung tipis dapat dipadukan dengan rantai yang lebih tebal, atau liontin sederhana ditempatkan bersama kalung rantai.
Namun, semakin banyak kalung yang digunakan, semakin penting memperhatikan proporsi. Jika seluruh kalung memiliki ukuran dan detail yang sama-sama kuat, tampilan dapat terlihat terlalu penuh.
Dalam perkembangan fashion 2026, teknik layering juga kembali mendapat perhatian. Vogue mencatat bahwa rumah mode seperti Chanel mengeksplorasi penggunaan rantai, choker, dan perhiasan berukuran besar dalam susunan yang lebih maksimalis.
Kalung Opera
Opera merupakan salah satu jenis kalung dengan ukuran panjang. Dalam bahan awal, panjangnya berada sekitar 28–36 inci atau sekitar 71–91 sentimeter.
Karena ukurannya panjang, kalung opera menciptakan garis vertikal yang cukup dominan. Model ini dapat dipadukan dengan maxi dress, blouse sederhana maupun turtleneck.
Kalung opera juga dapat dililitkan menjadi dua lapis sehingga menghasilkan tampilan yang berbeda tanpa harus menggunakan dua kalung.
Secara historis, istilah panjang kalung seperti opera merupakan bagian dari klasifikasi panjang perhiasan yang telah digunakan dalam dunia gemologi dan perhiasan. Literatur Gemological Institute of America (GIA), misalnya, mencantumkan opera sebagai salah satu kategori panjang kalung selain choker dan matinee.
Karena panjangnya, kalung opera juga memberikan ruang untuk eksplorasi styling. Kalung dapat dibiarkan menjuntai untuk tampilan yang lebih formal atau dililit untuk menghasilkan bentuk yang lebih ringkas.
Ketujuh model tersebut menunjukkan bahwa kalung tidak memiliki satu fungsi estetika.
Memahami jenis kalung bukan hanya membantu menentukan aksesori yang akan dikenakan. Pengetahuan tersebut juga membuat seseorang dapat memilih perhiasan berdasarkan bentuk, fungsi, dan karakter penampilan, bukan semata mengikuti tren yang sedang berlangsung.(far,ist/dya)




.jpg)
