03 September 2026

Get In Touch

Maulid Nabi di Surabaya Diwarnai Brayakan, Ini Pesan Wali Kota Eri Cahyadi

Kegiatan Maulid Nabi di Surabaya.
Kegiatan Maulid Nabi di Surabaya.

SURABAYA (Lentera) - Tradisi brayakan kembali mewarnai Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah, yang digelar TP PKK Kota Surabaya.

Sebanyak sekitar 1.400 anggota dan keluarga besar TP PKK Surabaya mengikuti Gebyar Hari Besar Islam bertajuk “PKK Bersholawat, Meraih Cinta dan Syafaat Nabi Muhammad” di Convention Hall Surabaya, Rabu (2/9/2026).

Tak sekadar bersholawat, kegiatan tersebut juga menjadi momentum memperkuat semangat berbagi dan gotong royong. Sebanyak 2.233 barang berupa perlengkapan rumah tangga, makanan ringan, hingga sabun dibagikan kepada peserta sebagai bagian dari tradisi brayakan.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengatakan peringatan Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti pada kegiatan bersholawat, tapi nilai-nilai yang dicontohkan Rasulullah SAW perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau kita ingin mendapatkan cinta Rasulullah, tidak cukup hanya banyak bersholawat. Kita juga harus berusaha meneladani akhlak beliau, menjaga persaudaraan, menyayangi sesama, dan memberikan manfaat bagi orang lain,” kata Eri.

Ia menilai, semangat tersebut sejalan dengan karakter masyarakat Surabaya yang selama ini menjadi kekuatan dalam pembangunan kota. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, lanjutnya, tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan dan kepedulian masyarakat.

“Surabaya tidak mungkin menjadi kuat kalau hanya dibangun oleh pemerintah. Surabaya menjadi kuat karena masyarakatnya saling membantu, saling menjaga, dan saling peduli,” ujarnya.

Untuk itu, Eri mendorong, kader PKK menjadi penggerak pembangunan hingga tingkat lingkungan. Kedekatan kader dengan warga dinilai dapat membantu pemerintah mengetahui kondisi masyarakat sekaligus memastikan program berjalan tepat sasaran, terutama dalam menangani persoalan sosial dan kemiskinan.

Ia juga meminta, kader PKK turut memperkuat Kampung Pancasila dengan mengenali kondisi warga di lingkungannya, termasuk memastikan masyarakat yang membutuhkan memperoleh perhatian dan intervensi program pemerintah.

“PKK harus menjadi ujung tombak untuk menyampaikan mana yang benar, mana yang keliru, dan mana yang masih kurang. Kita harus bersama-sama memastikan program pemerintah benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan,” ucapnya.

Selain kepedulian sosial, Eri mengajak, masyarakat memperkuat budaya infak dan sedekah. Menurutnya, semangat berbagi tidak diukur dari besar kecilnya nominal, tetapi dari kemampuan dan keikhlasan orang yang memberikan.

“Sedekah tidak perlu dilihat dari nilainya. Sesuaikan dengan kemampuan kita. Yang penting ikhlas. Jangan sampai ada yang membandingkan besar kecilnya pemberian,” tuturnya.

Eri berharap, potensi zakat, infak, dan sedekah di Surabaya dapat dikelola secara optimal dan terintegrasi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, kekuatan sosial tersebut dapat mendukung upaya pengentasan kemiskinan di Kota Pahlawan.

“Sehingga zakat yang terkumpul di Surabaya harus diprioritaskan untuk membantu warga Surabaya,” tutupnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.