08 September 2026

Get In Touch

Perjuangan Nabil Menjaga Dua Mimpi, Kuliah Kedokteran dan Bela Persebaya U-20

Nabil Loverino Misab, mahasiswa baru S1 Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) yang juga tercatat sebagai pemain Persebaya U-20.
Nabil Loverino Misab, mahasiswa baru S1 Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) yang juga tercatat sebagai pemain Persebaya U-20.

SURABAYA (Lentera) – Ketika sebagian mahasiswa menghabiskan sore untuk beristirahat setelah menjalani perkuliahan, Nabil Loverino Misab justru bersiap menuju lapangan. 

Pagi hingga siang ia berkutat dengan buku, praktikum, dan materi kedokteran. Sore harinya, ia berganti suasana dengan mengenakan perlengkapan latihan dan berlari mengejar bola.

Dua rutinitas itu kini menjadi bagian dari keseharian Nabil. Mahasiswa baru S1 Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) tersebut juga tercatat sebagai pemain Persebaya U-20.

Menjalani dua dunia sekaligus tentu bukan perkara mudah. Namun, Nabil tidak ingin terburu-buru memilih antara cita-cita menjadi dokter dan kecintaannya terhadap sepak bola. 

Selama keduanya masih bisa berjalan beriringan, ia ingin mempertahankan dua mimpi yang telah membentuk perjalanan hidupnya.

Remaja yang akrab disapa Nabil itu biasa bermain di posisi sayap kanan dan dapat pula ditempatkan sebagai penyerang. Kecintaannya terhadap sepak bola tumbuh sejak usia sembilan tahun ketika ia mulai bermain bersama teman-temannya.

Dari sekadar bermain, Nabil kemudian bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) di Surabaya. Kemampuannya terus berkembang hingga mengantarkannya ke Persebaya.

“Dari umur 13 sudah masuk Persebaya,” ujar Nabil, Selasa (8/9/2026).

Perjalanan menuju dunia sepak bola profesional itu tidak sepenuhnya mudah. Di keluarganya, sepak bola awalnya lebih dipandang sebagai hobi. Sementara itu, keluarga Nabil justru memiliki kedekatan dengan dunia kesehatan.

Ayahnya merupakan analis kesehatan. Dua kakaknya berprofesi sebagai dokter, masing-masing dokter spesialis kandungan dan dokter umum. Kakaknya yang lain memilih menjadi guru.

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara sekaligus satu-satunya anak laki-laki, Nabil memahami adanya harapan besar keluarga terhadap masa depannya. Ia pun diarahkan untuk mengikuti jejak kedua kakaknya dengan menempuh pendidikan kedokteran.

“Pertamanya saya juga terpaksa. Tapi lama-lama sudah dijelaskan kalau kedokteran itu enak karena jenjangnya panjang, daripada main bola,” tuturnya.

Seiring waktu, pandangan Nabil terhadap kedokteran pun berubah. Ia tidak lagi melihatnya sekadar sebagai pilihan keluarga. Nabil mulai menemukan alasan sendiri untuk menekuni profesi tersebut, salah satunya karena menyadari bahwa karier sebagai atlet memiliki batas dan penuh ketidakpastian.

Menurutnya, perjalanan seorang pesepak bola sangat dipengaruhi kondisi fisik. Cedera, usia, penurunan kemampuan, hingga kesempatan mendapatkan klub dapat memengaruhi keberlanjutan karier seorang pemain.

Karena itu, Nabil mulai memikirkan masa depan jauh sebelum karier sepak bolanya berakhir. “Kalau atlet sampai umur 30, kalau tidak jadi main bola kan pensiun. Mikir jenjangnya, kalau dokter kan panjang,” katanya.

Kesadaran tersebut membuat Nabil tidak melihat sepak bola dan kedokteran sebagai dua pilihan yang harus dipertentangkan. Sebaliknya, ia berusaha menjadikan keduanya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang saling melengkapi.

Pendidikan kedokteran menjadi prioritasnya, sementara sepak bola tetap ia pertahankan sebagai passion sekaligus jalan yang ingin terus dijalani.

Tantangan terbesar tentu terletak pada waktu. Kuliah kedokteran memiliki jadwal yang padat, sedangkan statusnya sebagai pemain Persebaya U-20 menuntut latihan dan persiapan pertandingan secara rutin.

Nabil pun mulai belajar disiplin mengatur waktu sejak awal perkuliahan. Ia membuat jadwal belajar agar tugas akademik tetap terselesaikan tanpa mengganggu kewajibannya sebagai atlet.

“Saya sudah siapkan jadwal belajar. Kalau misalnya tugas, saya sudah bagi waktu,” ujarnya.

Jadwal latihan yang umumnya berlangsung pada sore hari menjadi salah satu keuntungan bagi Nabil karena relatif tidak banyak berbenturan dengan perkuliahan. Dalam waktu dekat, ia bahkan masih akan menjalani latihan intensif untuk persiapan pertandingan.

Bagi Nabil, menjalani dua mimpi bukan berarti harus mengorbankan salah satunya. Ia ingin melihat sejauh mana sepak bola dan pendidikan kedokteran dapat berjalan berdampingan.

Selama sepak bola tidak mengganggu kewajibannya sebagai mahasiswa, Nabil masih ingin terus bermain dan membuka peluang untuk melanjutkan karier hingga level senior.

Ia juga memaham perjalanan seorang atlet tidak selalu bisa diprediksi. Karena itu, sembari mengejar prestasi di lapangan hijau, Nabil membangun fondasi masa depannya melalui pendidikan.

Kini, hidup Nabil seolah berada di antara dua dunia. Di satu sisi, ada lapangan hijau tempat ia mengejar bola dan membangun mimpi sebagai pesepak bola. Di sisi lain, ada ruang kuliah tempat ia menyiapkan diri untuk suatu hari mengenakan jas dokter.

"Keduanya adalah tentang keberanian untuk berusaha, disiplin membagi waktu, dan keyakinan bahwa satu mimpi tidak harus menghapus mimpi yang lain," tutupnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

 

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.