16 September 2026

Get In Touch

Hotspot Nasional Turun 400 Titik, Operasi Darat-Udara Terus Diperkuat

Upaya pemadaman Karhutla.
Upaya pemadaman Karhutla.

JAKARTA (Lentera) - Hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence secara nasional berkurang 400 titik atau turun menjadi 1.037 titik. Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui operasi darat dan udara.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian kehutanan, Ristianto Pribadi, Rabu (16/9/2026) mengatakan pengurangan titik hotspot tersebut berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.

Dia menandaskan hingga Selasa (15/9/2026) pukul 21.05 WIB, perkembangan hotspot high confidence pada enam provinsi prioritas diantaranya di Kalimantan Tengah: 266 titik, turun dari 689 titik; Sumatera Selatan: 245 titik, meningkat dari 116 titik; Kalimantan Selatan: 72 titik, turun dari 112 titik; Jambi: 62 titik, meningkat dari 9 titik; Kalimantan Barat: 43 titik, turun dari 203 titik; dan Riau: 15 titik, setelah sebelumnya nihil.

"Penurunan cukup besar terpantau di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Namun, peningkatan di Sumatera Selatan dan Jambi menjadi perhatian dalam penentuan prioritas patroli, groundcheck, serta operasi pemadaman. Dengan 245 hotspot high confidence, Sumatera Selatan saat ini hampir menyamai jumlah yang terpantau di Kalimantan Tengah," katanya.

Pemerintah tetap menyiagakan 53 unit armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 34 armada digunakan untuk operasi water bombing; dan 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Pengerahan armada dilakukan berdasarkan perkembangan hotspot, hasil verifikasi lapangan, kondisi kebakaran, serta kondisi meteorologis. OMC tetap menjadi bagian dari strategi pengendalian dan pembasahan lahan, dengan pelaksanaannya menyesuaikan potensi awan dan kebutuhan di lapangan.

BMKG memprakirakan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masih memiliki potensi hujan sedang hingga lebat pada 16 September 2026. Kondisi atmosfer tersebut terus dipantau sebagai bagian dari strategi pengendalian, sekaligus tetap mewaspadai perubahan cuaca yang bersifat lokal dan cepat.

Dukungan udara juga diperkuat melalui kerja sama Indonesia-Jepang. Pada 15 September 2026, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin meninjau langsung kapal JMSDF JS Kunisaki beserta tiga helikopter CH-47 Chinook di Mempawah, Kalimantan Barat, serta menerima laporan mengenai kondisi dan perkembangan operasional dukungan Jepang di lapangan. Helikopter tersebut disiapkan untuk mendukung percepatan pemadaman karhutla di Kalimantan Barat.

"Kehadiran tiga helikopter berkapasitas besar tersebut merupakan dukungan tambahan terhadap kemampuan nasional yang telah dikerahkan. Pengoperasiannya diintegrasikan dengan keseluruhan operasi pemerintah Indonesia, termasuk koordinasi misi penerbangan dan aspek keselamatan," katanya.

Dia juga menandaskan, berdasarkan pemantauan PM2,5, kondisi udara di Indonesia masih bervariasi. Sebagian besar wilayah berada pada kategori baik hingga sedang, namun beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan masih menunjukkan kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Pada area terbatas masih terpantau kondisi kategori berbahaya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan karhutla tidak cukup dilihat hanya dari jumlah hotspot. Pemerintah terus memantau secara terpadu kondisi kebakaran di lapangan, PM2,5, sebaran asap, cuaca, curah hujan, arah angin, serta jarak pandang.

Kondisi di Pontianak masih perlu mendapat perhatian, karena asap masih membatasi jarak pandang sekitar dua kilometer. Namun, kondisi jarak pandang bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, serta hujan.

"Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat di wilayah terdampak asap untuk terus memantau kondisi udara. Apabila kondisi memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila tetap harus berada di luar," katanya.

Dia juga mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Apabila melihat asap, titik api, atau aktivitas pembakaran, segera laporkan agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin. (*)


Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.