Kebakaran di Kota Malang Tembus 28 Kasus pada Agustus, Damkar: September Diprediksi Lebih Tinggi
MALANG (Lentera) - Kejadian kebakaran di Kota Malang menunjukkan peningkatan dalam beberapa bulan terakhir, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran (Damkar) setempat mencatat 28 kasus sepanjang Agustus 2026.
Memasuki September, angka tersebut diprediksi akan meningkat seiring kondisi cuaca yang panas dan kering.
Kepala UPT Damkar Kota Malang, Pandu Rizki Darmawan mengatakan, secara keseluruhan terdapat 85 kasus kebakaran yang ditangani sejak Januari hingga akhir Agustus 2026.
"Peningkatan paling signifikan terjadi dalam tiga bulan terakhir. Jumlah kejadian yang semula tercatat 7 kasus pada Juni, meningkat menjadi 22 kasus pada Juli, kemudian kembali naik menjadi 28 kasus pada Agustus. Peningkatan kasus salah satunya dipengaruhi oleh faktor kemarau kering dan angin, yang semakin mempercepat proses perambatan api," ujar Pandu, Kamis (17/9/2026).
Dari total 85 kejadian tersebut, menurutnya kebakaran lahan dan Tempat Pembuangan sampah Sementara (TPS) sampah menjadi penyumbang terbesar. Lokasinya tersebar di sejumlah kelurahan, termasuk lahan kosong, area perengan, hingga barongan sungai yang ditumbuhi rumput dan bambu.
"Kebakaran pada rumah maupun bangunan gedung juga masih terjadi, namun jumlahnya tidak sebanyak kebakaran lahan dan TPS," katanya.
Pandu menyebut, salah satu pemicu kebakaran lahan dan TPS tersebut berasal dari aktivitas membakar sampah yang tidak diawasi. Masyarakat yang berniat membakar sampah terkadang meninggalkan lokasi sebelum api benar-benar padam sehingga api merambat ke material lain di sekitarnya.
"Ini sangat berbahaya karena yang pertama bisa semakin meluas ke lahan, perkebunan, atau bahkan bisa sampai menjalar ke permukiman," katanya.
Kondisi tersebut bahkan sempat terjadi di wilayah Bumiayu pada September 2026. Kebakaran yang bermula dari lahan kosong merambat hingga menyambar bagian plafon rumah yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian.
Pandu menegaskan, peristiwa tersebut belum masuk dalam rekapitulasi 85 kasus kebakaran Januari hingga Agustus. Namun, kejadian itu menjadi salah satu gambaran risiko kebakaran lahan di tengah kondisi cuaca yang masih panas dan kering.
Dikatakannya, melihat kondisi cuaca, jumlah kebakaran pada September berpotensi melampaui catatan Agustus yang mencapai 28 kasus. "September dimungkinkan akan melebihi," terangnya.
Indikasi peningkatan tersebut juga terlihat dari penanganan kebakaran pada Minggu (13/9/2026). Dalam sehari, petugas Damkar Kota Malang menangani 4 kejadian kebakaran yang tersebar di Jatimulyo, Purwantoro, Bumiayu, serta Bandungrejosari, tepatnya di belakang Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).
Selain berpotensi meluas, Pandu mengatakan, kebakaran lahan dan TPS juga memiliki tingkat kesulitan pemadaman yang berbeda dibandingkan kebakaran bangunan. Petugas harus mewaspadai keberadaan api tersembunyi atau hidden fire yang dapat bertahan di bagian bawah material.
Dijelaskannya, pada kebakaran lahan maupun TPS, api dapat tersimpan hingga kedalaman sekitar satu meter di bawah permukaan. Karena itu, membasahi permukaan belum tentu membuat seluruh titik api benar-benar padam.
"Selain itu, risiko keselamatan bagi petugas selama proses pemadaman juga meningkat. Salah satu ancaman yang harus diantisipasi adalah longsoran material sampah yang dapat terjadi ketika petugas melakukan pembasahan dan pendinginan di area TPS," katanya.
Untuk mengantisipasi semakin banyaknya kejadian kebakaran, Damkar Kota Malang mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama selama kondisi cuaca panas dan kering.
Masyarakat diminta tidak meninggalkan pembakaran sampah sebelum api benar-benar padam. Selain itu, warga juga diminta memastikan peralatan elektronik yang tidak digunakan dalam kondisi mati atau telah dilepas dari sumber listrik ketika meninggalkan rumah.
"Pastikan juga kondisi regulator dan selang gas juga perlu menjadi perhatian. Kami mengimbau masyarakat rutin memeriksa regulator serta selang gas untuk memastikan tidak terdapat kebocoran," pungkasnya.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais





.jpg)
