24 September 2026

Get In Touch

Kemenkes Catat Influenza A H3N2 di Jawa Timur, Dinkes Madiun Pastikan Belum Ada Kasus

Agung Dodik Pujianto, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun.
Agung Dodik Pujianto, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun.

MADIUN (Lentera) -Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun menyatakan belum menemukan kasus influenza A H3N2 yang belakangan ramai disebut sebagai “super flu” di wilayahnya.

Agung Dodik Pujianto,Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun. mengatakan laporan dari masyarakat, puskesmas, maupun rumah sakit hingga Rabu (23/9/2026) belum menunjukkan adanya kasus tersebut.

“Untuk Kabupaten Madiun sendiri sampai saat ini belum ada kasus super flu tersebut,” ujar Dodik.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah peningkatan temuan influenza di sejumlah daerah di Jawa Timur.

Berdasarkan laporan pengawasan influenza dan Covid-19 Kementerian Kesehatan hingga 19 September 2026, H3N2 Subclade K terdeteksi di 13 provinsi. Jawa Timur dan Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan proporsi terbesar, masing-masing 24 persen.

Dalam laporan yang sama, pada minggu ke-36, dari 185 spesimen yang diperiksa secara nasional, ditemukan 86 kasus positif influenza. Delapan di antaranya merupakan influenza A H3N2, 76 influenza A H1N1Pdm09, dan dua influenza B Victoria.

Dodik menjelaskan, influenza A H3N2 pada dasarnya masih merupakan influenza. Istilah “super flu” lebih banyak digunakan untuk menggambarkan karakter penyebarannya yang dinilai lebih cepat.

“Sebenarnya hampir sama. Hanya saja penyebarannya lebih cepat. Variannya masih termasuk influenza,” katanya.

Menurut Dodik, gejala H3N2 tidak jauh berbeda dengan influenza pada umumnya. Gejala dapat berupa demam, batuk, dan pilek.

Demam dapat mencapai lebih dari 38 derajat Celsius. Salah satu gejala yang perlu diperhatikan adalah rasa lelah yang sangat berat.

“Yang paling ekstrem adalah munculnya kelelahan yang sangat berat,” ujarnya.

Masa inkubasi diperkirakan sekitar tiga hari. Menurut Dodik, dengan pemberian antivirus sesuai indikasi medis, penderita umumnya dapat pulih sekitar tujuh hari.

Meski demikian, gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang terinfeksi H3N2. Diagnosis perlu diperkuat melalui pemeriksaan laboratorium.

“Kalau ingin menegakkan diagnosis secara pasti, perlu dilakukan pemeriksaan swab. Sampelnya kemudian dikirim ke BBLK Surabaya untuk pemeriksaan lebih lanjut,” kata Dodik.

Dinkes Kabupaten Madiun juga memantau kemungkinan peningkatan kasus melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).

Sistem tersebut digunakan untuk mendeteksi adanya peningkatan penyakit tertentu berdasarkan laporan fasilitas pelayanan kesehatan.

Dodik mengatakan, hingga saat ini belum terlihat adanya lonjakan kasus yang mengarah pada kejadian luar biasa influenza di Kabupaten Madiun.

“Kalau terjadi lonjakan kasus, misalnya demam tinggi di beberapa wilayah atau puskesmas, kondisi tersebut akan terdeteksi. Sampai saat ini belum ada lonjakan seperti itu di Kabupaten Madiun,” ujarnya.

Dinkes meminta masyarakat tetap melakukan langkah pencegahan, terutama ketika berada di tempat ramai.

Masyarakat dianjurkan menggunakan masker ketika keluar rumah, memperbanyak konsumsi air putih, menjaga pola hidup bersih dan sehat, serta menghindari kerumunan ketika sedang sakit.

Vaksinasi influenza juga dapat menjadi salah satu pilihan pencegahan.

Reporter: Wiwiet Eko Prasetyo|Editor: Arifin BH

 

 

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.