JAKARTA (Lentera) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, per 1 September 2026 Indonesia memiliki 1.495 psikiater atau rasio satu banding 180 ribu penduduk.
Jumlah ini jauh dari rekomendasi WHO yakni satu banding 30 ribu, sehingga upaya promotif-preventif seperti Cek Kesehatan Gratis digencarkan.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi mengatakan dari 3.513 psikolog klinis yang terdata, hanya 213 orang yang bertugas di puskesmas.
"Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenkes terus memperkuat upaya promotif dan preventif secara terintegrasi melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), serta layanan kesehatan bagi ibu hamil dan ibu pascapersalinan," kata Endang di Jakarta, Senin (12/10/2026) mengutip Antara, Selasa (13/10/2026).
Dia menjelaskan, bahwa beban gangguan kesehatan jiwa di Indonesia masih tinggi, sementara kesenjangan penanganan (treatment gap) masih menjadi tantangan.
Hingga saat ini, skrining kesehatan jiwa melalui program Kemenkes telah menjangkau lebih dari 71,8 juta jiwa. Dari hasil skrining tersebut, ditemukan dugaan gejala depresi pada 1,2 persen sasaran dan gejala kecemasan pada 0,9 persen sasaran.
Untuk mempercepat tindak lanjut hasil skrining di fasilitas pelayanan kesehatan primer, Kemenkes meluncurkan empat seri buku saku skrining kesehatan jiwa.
Buku saku tersebut ditujukan bagi empat kelompok, yaitu ibu hamil dan ibu pascapersalinan, anak dan remaja, dewasa, serta lansia.
"Buku saku ini disusun bersama para ahli dari organisasi profesi sebagai panduan praktis bagi tenaga kesehatan di puskesmas dalam menindaklanjuti hasil skrining di lapangan," jelasnya.
Senada, Wakil Menteri Kesehatan, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono menegaskan kesehatan jiwa merupakan aspek penting, dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Kesehatan jiwa tidak lagi menjadi isu yang terpinggirkan, tetapi harus menjadi perhatian utama untuk mewujudkan SDM Indonesia yang lebih unggul.
Dante menekankan, bahwa penanganan kesehatan jiwa dan kondisi neurodivergen, seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan disleksia, harus mengedepankan inklusivitas dan dimulai dari lingkungan keluarga.
Untuk memotivasi masyarakat agar tidak membatasi potensi anak, Wamenkes Dante mencontohkan Jacques Dubochet, peraih Nobel Kimia 2017 yang merupakan penyandang disleksia.
Ia menegaskan, bahwa tantangan belajar yang dialami anak pada masa kecil tidak boleh menjadi penghalang bagi mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik.
"Kesulitan yang dialami anak saat ini tidak menentukan masa depannya. Kita ingin mereka yang mengalami masalah kejiwaan tidak lagi dimarginalisasikan, tetapi kita rangkul," tegasnya.
Editor: Arief Sukaputra





.jpg)
