20 October 2026

Get In Touch

Kepala BNPB Minta Kesehatan Petugas Pemadam Karhutla Diperhatikan

Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi (Ant)
Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi (Ant)

JAKARTA (Lentera) -Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan, keselamatan, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi para petugas yang berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lapangan.

Kepala BNPB, Kristomei Sianturi dalam keterangan di Jakarta, Senin, mengatakan pihaknya mengusulkan agar pemeriksaan medis menyeluruh, seperti rontgen paru-paru, diberikan kepada para anggota di lini depan mengingat tingginya paparan asap selama proses pemadaman sebagai bentuk perlindungan nyata terhadap kesehatan para petugas.

"Kalau perlu, rontgen paru-parunya itu. Kasihan juga dia," kata dia, dalam rapat koordinasi penanganan darurat bencana karhutla di Palembang, Sumatera Selatan itu.

Sebagai langkah taktis penanganan di lapangan, Kepala BNPB mendorong pembentukan posko-posko operasi kolaboratif yang terbagi berdasarkan klaster wilayah titik panas (hotspot).

Setiap posko diwajibkan memiliki penanggung jawab wilayah yang jelas, peta pembagian tugas, serta kepastian jumlah personel dan alutsista yang dikerahkan.

Aspek akuntabilitas dan kejujuran data personel di posko lapangan harus ditegakkan secara transparan. Jumlah personel yang dilaporkan harus sesuai dengan fakta di lapangan guna memastikan jaminan perlindungan bagi mereka yang telah bekerja keras.

"BNPB tetap mendukung, tapi juga kita akuntabilitas di lapangan. Kalau memang 100, dukung 100. Orang itu harus 100. Jangan dukung 100, orangnya 10. Nah, gitu ya. Jadi ada harus akuntabilitas di sini ya, bahwa yang kita kuatkan dengan estimasi syarat kinerjanya, sehingga kalau kurang, tambah lagi," kata Kristomei, dilansir Antara.

Adapun berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai dengan awal Oktober ini, dampak gangguan kesehatan akibat kabut asap karhutla telah memicu ratusan kasus keluhan pernapasan berat atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dengan rincian 324 orang mengalami luka berat, 23 orang luka ringan, serta empat orang dilaporkan meninggal dunia.

Beberapa korban meninggal dunia di antaranya mencakup Hardiansyah (41), seorang pengemudi ojek online di Palembang, Sumatera Selatan; Lisna, seorang guru sekolah dasar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan; serta Fikri alias Kelik (51), warga Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, yang meninggal saat berupaya memadamkan api karhutla.

Empat orang kembali dilaporkan meninggal dunia dalam karhurla di Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tepatnya di Pusung Lingker yang berada di Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/10).

Korban yang meninggal dunia di lokasi kejadian yakni Sefril dan Wisnu yang merupakan relawan dari karyawan hotel setempat dan petugas TNBTS bernama Sukaris, kemudian Hendra Roni yang merupakan petugas TNBTS meninggal di RSUD Tongas.

Sementara korban yang mengalami luka bakar serius yakni Munawi yang merupakan petugas TNBTS dan Suraji yang merupakan relawan dari karyawan hotel setempat dirujuk ke RSUD dr Soetomo (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.