22 October 2026

Get In Touch

Angkat Potensi Herbal Indonesia, Dosen Ubaya Kantongi Empat Paten Inovasi

Dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya) Dr. apt. Marisca Evalina Gondokesumo, S.H., M.H., S.Farm.
Dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya) Dr. apt. Marisca Evalina Gondokesumo, S.H., M.H., S.Farm.

SURABAYA (Lentera) – Dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya), Dr. apt. Marisca Evalina Gondokesumo, S.H., M.H., S.Farm., M.Farm.Klin., berhasil mengantongi empat paten atas inovasi di bidang produk kesehatan berbasis bahan alam.

Empat inovasi tersebut meliputi obat kumur berbasis ekstrak daun stevia, tisu wajah berbahan kulit jagung, nanopartikel ekstrak kulit manggis untuk menghambat pertumbuhan sel kanker leukemia, serta tisu antibakteri berbahan kulit jagung dengan tambahan kitosan dan ekstrak kulit manggis.

Perempuan berusia 38 tahun itu mengatakan, rangkaian penelitiannya berangkat dari ketertarikan Marisca terhadap kekayaan biodiversitas Indonesia yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan. Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan penelitian ilmiah agar pemanfaatannya memiliki dasar yang kuat.

“Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas nomor dua di dunia yang seharusnya dapat dimaksimalkan untuk menunjang kualitas kesehatan masyarakatnya. Namun, pada faktanya, pemanfaatan dan riset ilmiah untuk pembuktian manfaatnya masih sangat minim dilakukan,” kata Marisca, Rabu (21/10/2026).

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah tisu antibakteri berbahan kulit jagung dengan tambahan kitosan dan ekstrak kulit manggis. Inovasi tersebut mengantarkan Marisca menjadi salah satu dosen muda dengan paten inspiratif. 

Sertifikat Paten Sederhana itu diserahkan langsung oleh Menteri Hukum RI Supratman Andi Agtas dan Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Hermansyah Siregar di Surabaya pada September lalu.

Marisca menjelaskan, pengembangan tisu antibakteri tersebut berupaya menggabungkan pemanfaatan bahan yang berpotensi menjadi limbah dengan bahan tambahan yang memiliki fungsi antibakteri.

“Simpel, namun berdampak. Mungkin itu deskripsi yang tepat untuk menjelaskan inovasi tisu jagung antibakteri hasil pengembangan saya dan tim. Bahannya lebih ramah lingkungan karena menggunakan kulit jagung, namun ada manfaat antibakteri dari kitosan dan kulit manggis yang sudah terbukti secara klinis aman bagi yang memiliki alergi dan kulit sensitif,” jelasnya.

Selain mengembangkan produk berbahan kulit jagung, Marisca menekuni penelitian di bidang biomedik. Salah satu hasil penelitiannya adalah invensi berjudul Nanopartikel Ekstrak Kulit Manggis (Garcinia mangostana) Digunakan untuk Menghambat Pertumbuhan Sel Kanker Leukemia HL-60 yang memperoleh paten pada 2025.

Penelitian tersebut berfokus pada penghambatan pertumbuhan sel leukemia HL-60. Meski demikian, temuan pada tingkat penelitian sel tidak serta-merta berarti ekstrak kulit manggis dapat digunakan sebagai pengobatan kanker pada manusia. 

"Pengembangan lebih lanjut tetap memerlukan pengujian dan pembuktian sesuai tahapan penelitian yang berlaku," tuturnta.

Marisca menyelesaikan studi doktoral pada usia 29 tahun. Latar belakang akademik tersebut menjadi salah satu bekal dalam mengembangkan penelitian yang menghubungkan potensi bahan alam dengan ilmu farmasi dan biomedik.

Kiprahnya tidak berhenti di laboratorium, Marisca juga terlibat dalam pengabdian masyarakat selama beberapa tahun di Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. 

Melalui kegiatan yang mengintegrasikan keilmuan akademik dan pemberdayaan masyarakat, tim yang dipimpinnya mengembangkan desa atsiri yang meraih rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

Pengembangan tersebut menjadi salah satu upaya mengenalkan dan memanfaatkan potensi tanaman lokal melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat. Dengan pendekatan ini, penelitian perguruan tinggi tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan publikasi atau paten, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan pengetahuan bagi masyarakat.

Di lingkungan kampus, Marisca pernah menjabat sebagai Ketua Pusat Informasi dan Pengembangan Obat Tradisional (PIPOT) Fakultas Farmasi Ubaya pada 2022–2025. Dalam posisi tersebut, ia memprakarsai berbagai kegiatan untuk mendukung perkembangan obat tradisional Indonesia.

Saat ini, Marisca menjabat sebagai Koordinator Sentra Kekayaan Intelektual Ubaya. Peran tersebut berkaitan dengan upaya perlindungan, pengelolaan, dan pemanfaatan kekayaan intelektual agar hasil penelitian memiliki perlindungan yang memadai serta berpeluang dikembangkan lebih lanjut.

Ke depan, ia berkomitmen, melanjutkan inovasi melalui pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, mulai dari pendidikan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat. Ia juga ingin menumbuhkan semangat riset di kalangan mahasiswa agar mereka berani mengeksplorasi gagasan dan potensi lokal.

“Sebagai seorang dosen, saya sangat suka apabila para mahasiswa juga memiliki semangat yang tinggi untuk berinovasi. Dalam berbagai riset dan prestasi yang menjadi buah perjuangan mereka selama ini, terkandung rasa haru, bangga, dan kesenangan tersendiri. Saya juga akan terus berinovasi dan mencari potensi etnobotani Indonesia untuk diberdayakan sebagai obat herbal,” pungkasnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

 

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.