23 October 2026

Get In Touch

Suka Baca Buku Fiksi, Jaga Kesehatan Mental

Suka Baca Buku Fiksi, Jaga Kesehatan Mental

SURABAYA ( LENTERA ) - Membaca fiksi bukan sekadar hiburan. Kebiasaan ini dapat membantu pembaca memahami emosi, melihat persoalan dari sudut pandang berbeda, dan memberi jeda dari tekanan sehari-hari.

Membaca novel atau cerita fiksi kerap dianggap sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Padahal, mengikuti perjalanan tokoh, memahami konflik, hingga menebak alasan di balik tindakan seseorang dapat menjadi latihan untuk mengenali emosi dan memahami orang lain.

Di tengah kebiasaan mengonsumsi video pendek dan arus informasi yang terus bergerak, membaca fiksi menawarkan pengalaman berbeda. Pembaca perlu mengikuti alur cerita, mengingat peristiwa, dan memahami hubungan antartokoh. Aktivitas ini juga memberi ruang untuk berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari.

Mengutip Your Tango mengenai tujuh alasan membaca fiksi dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih baik. Sejumlah penelitian ilmiah juga menunjukkan adanya manfaat membaca fiksi bagi kemampuan memahami perspektif orang lain, meski dampaknya tidak selalu sama pada setiap pembaca.

Membantu Memahami Emosi

Salah satu daya tarik fiksi adalah kesempatan untuk memasuki kehidupan tokoh yang berbeda dari pengalaman pembaca. Melalui cerita, seseorang dapat mengikuti pergulatan batin, konflik keluarga, persoalan sosial, hingga keputusan sulit yang dihadapi karakter.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Literacy pada 2025 mengeksplorasi pengalaman 37 remaja berusia 12–14 tahun di dua sekolah menengah di Skotlandia. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian peserta merasa membaca fiksi membantu mereka memahami perspektif tokoh dan menghubungkannya dengan pengalaman orang lain dalam kehidupan nyata.

Namun, manfaat tersebut tidak dirasakan semua peserta. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman membaca dan pengaruhnya terhadap empati dapat berbeda-beda.

Melatih Perhatian 

Membaca novel menuntut pembaca mengikuti alur, mengingat detail, serta menghubungkan kejadian yang berlangsung di berbagai bagian cerita. Berbeda dengan video pendek yang menyajikan informasi secara cepat, novel biasanya membutuhkan keterlibatan lebih lama untuk memahami keseluruhan kisah.

Artikel ilmiah Inge van de Ven yang diterbitkan dalam Orbis Litterarum pada 2024 membahas hubungan antara membaca karya sastra dan perhatian. Kajian tersebut menjelaskan bahwa membaca sastra melibatkan berbagai cara mengelola perhatian, mulai dari membaca secara saksama hingga memilih bagian yang dianggap penting.

Meski demikian, membaca buku tidak otomatis menjamin rentang perhatian seseorang menjadi lebih panjang. Pengaruhnya bergantung pada karakteristik bacaan dan cara pembaca terlibat dalam cerita.

Mengembangkan Imajinasi 

Cerita fiksi mengajak pembaca membayangkan tempat, karakter, dan peristiwa yang belum tentu pernah mereka temui. Pembaca juga dapat diajak mempertimbangkan berbagai kemungkinan ketika tokoh menghadapi masalah.

Proses tersebut memberi kesempatan untuk melatih pemahaman terhadap situasi yang kompleks. Ketika mengikuti konflik cerita, misalnya, pembaca dapat memikirkan alasan setiap tokoh bertindak dan konsekuensi dari keputusan mereka.

Kemampuan membayangkan beragam kemungkinan ini berpotensi membantu pembaca melihat persoalan dari lebih dari satu sudut pandang. Namun, manfaat tersebut bukan berarti setiap orang yang membaca fiksi pasti memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik.

Memberi Jeda dari Paparan Layar 

Membaca buku fisik dapat menjadi alternatif ketika seseorang ingin mengurangi waktu menggunakan gawai. Aktivitas ini memberi kesempatan untuk menjauh sejenak dari notifikasi, linimasa media sosial, dan informasi yang datang bertubi-tubi.

Meski begitu, manfaat tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh bentuk bukunya. Membaca melalui buku elektronik juga dapat memberikan pengalaman yang serupa, bergantung pada kebiasaan pengguna dan gangguan yang muncul selama membaca.

Hal yang perlu diperhatikan adalah perbedaan antara membaca secara mendalam dan sekadar berpindah dari satu konten ke konten lain. Membaca cerita dengan penuh perhatian dapat menjadi pengalaman yang berbeda dari kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan yang jelas.

Sarana Mengelola Stres 

Ketika menghadapi tekanan pekerjaan, persoalan keluarga, atau kelelahan setelah beraktivitas, membaca cerita dapat membantu mengalihkan perhatian sejenak. Pembaca berkesempatan memasuki dunia cerita dan memberi jarak dari persoalan yang sedang dihadapi.

Pengalihan perhatian ini dapat menjadi bentuk istirahat psikologis. Namun, membaca fiksi bukan berarti masalah yang dihadapi akan selesai dengan sendirinya.

Penelitian mengenai lima bentuk keterlibatan dengan fiksi yang diterbitkan dalam Scientific Study of Literature pada 2022 menemukan hasil yang beragam. Paparan cerita saja tidak selalu langsung meningkatkan kesejahteraan emosional. Hasil yang lebih mendukung muncul dalam beberapa studi ketika peserta mengingat kembali atau mendiskusikan cerita yang dibaca.

Artinya, manfaat membaca mungkin tidak hanya terletak pada aktivitas membaca itu sendiri, tetapi juga pada proses merenungkan pengalaman dan makna cerita.

Menerima Perspektif Berbeda

Tokoh fiksi dapat memiliki latar belakang, nilai, dan cara berpikir yang bertentangan dengan pandangan pembaca. Mengikuti cerita mereka memberi kesempatan untuk memahami alasan di balik tindakan yang awalnya sulit diterima.
Pembaca tidak harus menyetujui keputusan tokoh untuk memahami sudut pandangnya. 

Kemampuan membedakan antara memahami dan menyetujui menjadi bagian penting dalam melihat persoalan secara lebih utuh.
Kajian sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology pada 25 September 2026 menelaah 21 penelitian mengenai bacaan sastra atau bacaan prososial dan kemampuan sosial-kognitif.

Hasil gabungan penelitian menunjukkan hubungan positif dalam skala kecil antara membaca dan kemampuan sosial-kognitif, termasuk empati kognitif serta kemampuan memahami keadaan mental orang lain. Peneliti juga menegaskan bahwa pengaruhnya bergantung pada konteks dan keterlibatan pembaca dengan narasi.

Menikmati Waktu Sendiri

Membaca dapat menjadi kegiatan yang dinikmati tanpa harus melibatkan orang lain. Bagi sebagian orang, waktu bersama buku memberi kesempatan untuk beristirahat dari tuntutan sosial dan memikirkan kembali pengalaman pribadi.

Melalui karakter dan konflik yang dibaca, seseorang juga dapat menemukan situasi yang terasa dekat dengan kehidupannya sendiri. Cerita tersebut bisa menjadi pemantik untuk mengenali perasaan, mempertanyakan asumsi, atau memahami pengalaman yang sebelumnya sulit diungkapkan.

Meski demikian, menikmati kesendirian tidak sama dengan menghindari hubungan sosial. Membaca sebaiknya menjadi salah satu cara mengisi waktu dan memulihkan energi, bukan alasan untuk terus-menerus menarik diri dari lingkungan.

Hubungan antara membaca fiksi dan kesehatan mental perlu dipahami secara proporsional. Penelitian menunjukkan potensi manfaat terhadap empati, pemahaman perspektif, dan pengalaman emosional, tetapi tidak membuktikan bahwa membaca fiksi otomatis membuat seseorang memiliki kondisi mental yang lebih sehat.

Meta-analisis yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Psychology: General pada 2024 juga menemukan manfaat kognitif membaca fiksi dalam skala kecil. Pengaruh yang signifikan terutama terlihat pada sejumlah ukuran empati dan kemampuan memahami keadaan mental orang lain, bukan pada seluruh kemampuan kognitif yang diuji.

Karena itu, kebiasaan membaca dapat ditempatkan sebagai salah satu kegiatan yang mendukung kesejahteraan, bukan pengganti penanganan profesional ketika seseorang mengalami gangguan kesehatan mental.
Pembaca juga tidak perlu memaksakan diri menyelesaikan novel tebal atau menetapkan target halaman yang sulit dicapai. 

Memilih genre yang disukai, menyediakan waktu membaca secara teratur, dan menikmati cerita tanpa tekanan dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan tersebut.
Pada akhirnya, kekuatan membaca fiksi bukan hanya terletak pada cerita yang disajikan, melainkan juga pada kesempatan bagi pembaca untuk berhenti, membayangkan, dan memahami pengalaman manusia yang beragam.(far,ist/dya)
 

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.