25 October 2026

Get In Touch

'CIMSA' Dorong Integrasi One Health, dari Pengendalian Zoonosis hingga Resistensi Antibiotik

Konferensi pers terkait Kebijakan One Health yang digelar oleh Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA). (Amanah/Lentera)
Konferensi pers terkait Kebijakan One Health yang digelar oleh Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA). (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera)– Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA) mendorong penguatan pendekatan One Health dalam kebijakan kesehatan di Indonesia. Pendekatan ini menekankan keterkaitan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan untuk menghadapi berbagai ancaman, mulai dari penyakit zoonosis hingga resistensi antimikroba.

Dorongan tersebut disampaikan dalam konferensi pers peluncuran Dokumen Kebijakan One Health dan Kesejahteraan Dokter yang diselenggarakan CIMSA pada Sabtu (24/10/2026). Kegiatan berlangsung secara hybrid di Surabaya Suites Hotel dan melalui konferensi daring.

Vice President for External Affairs CIMSA Indonesia periode 2026–2027, Muhammad Adriand Rizky, menjelaskan sejumlah persoalan kesehatan tidak bisa ditangani hanya melalui sektor kesehatan manusia. Penyakit zoonosis seperti rabies dan leptospirosis, resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR), keamanan pangan, serta pencemaran lingkungan membutuhkan penanganan lintas sektor.

“Permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui sektor kesehatan manusia. Dibutuhkan koordinasi lintas sektor, sistem surveilans yang terintegrasi, serta upaya pencegahan yang berkelanjutan,” ujarnya dalam pemaparan dokumen kebijakan tersebut.

Ia menjelaskan, One Health merupakan pendekatan terpadu yang mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan ekosistem saling berkaitan. Perubahan kondisi lingkungan, interaksi manusia dengan hewan, serta praktik penggunaan obat antimikroba dapat memengaruhi risiko kesehatan masyarakat.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian ialah resistensi antimikroba. Kondisi ini terjadi ketika mikroorganisme, seperti bakteri, tidak lagi merespons obat yang sebelumnya efektif untuk mengatasinya. Akibatnya, infeksi dapat menjadi lebih sulit diobati dan risiko penyebaran penyakit meningkat.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat, termasuk tanpa resep atau tidak sesuai petunjuk tenaga kesehatan, dapat berkontribusi terhadap berkembangnya resistensi. Persoalan ini juga berkaitan dengan penggunaan antimikroba pada sektor peternakan dan perikanan sehingga pengendaliannya memerlukan pengawasan yang menyeluruh.

Antara lain, penyakit zoonosis yang dapat menular antara hewan dan manusia juga membutuhkan upaya pencegahan yang melibatkan berbagai pihak. "Penguatan surveilans, pertukaran informasi, pengendalian faktor risiko, serta respons cepat terhadap potensi wabah menjadi bagian penting dalam pendekatan tersebut," jelasnya.

Melalui dokumen kebijakan itu, CIMSA menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada pemangku kepentingan. Kepada pemerintah, CIMSA mendorong peningkatan koordinasi lintas kementerian untuk mengendalikan AMR, harmonisasi regulasi, serta pengawasan penggunaan antibiotik tanpa resep.

CIMSA juga mendorong penguatan pengawasan penggunaan antibiotik pada sektor peternakan dan perikanan, serta pelaksanaan penilaian risiko bersama atau joint risk assessment untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi ancaman zoonosis secara berkala.

Menurut Adriand, edukasi kepada masyarakat perlu disertai regulasi yang konsisten dan pengawasan yang efektif. "Dengan demikian, pencegahan tidak hanya bergantung pada perubahan perilaku individu, tetapi juga didukung sistem dan kebijakan yang mampu mengendalikan sumber risiko," tuturnya.

Pada tingkat regional dan internasional, CIMSA mendorong harmonisasi agenda One Health, pertukaran data dan praktik baik antarnegara, serta dukungan teknis dan sumber daya untuk memperkuat penerapannya di Indonesia.

Kolaborasi lintas negara dinilai penting karena ancaman kesehatan tidak selalu berhenti pada batas wilayah administratif. "Mobilitas manusia dan hewan, perdagangan pangan, serta persoalan lingkungan dapat memengaruhi penyebaran risiko kesehatan antardaerah maupun antarnegara," tambahnya.

Selain menyasar pemerintah dan organisasi internasional, CIMSA menempatkan mahasiswa kedokteran sebagai bagian dari upaya memperkuat implementasi One Health.

Mahasiswa didorong tidak hanya memahami isu kesehatan secara teoritis, tetapi juga mengembangkan edukasi berbasis bukti, meningkatkan kapasitas anggota, dan memberdayakan masyarakat melalui kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan lokal.

CIMSA juga membuka ruang kolaborasi di antara anggota, komite internal organisasi, serta kelompok kepemudaan dan organisasi lintas sektor lainnya. "Upaya ini diharapkan membantu mahasiswa melihat persoalan kesehatan secara lebih menyeluruh, termasuk dengan mempertimbangkan faktor lingkungan, interaksi manusia dan hewan, serta kesenjangan yang memengaruhi risiko kesehatan," ucapnya.

Dokumen kebijakan tersebut turut mencakup isu nutrisi dan ketahanan pangan, penyakit zoonosis, resistensi antimikroba, serta penerapan pendekatan One Health dalam situasi bencana maupun pascabencana.

Melalui dokumen ini, CIMSA mendorong agar pendekatan One Health menjadi bagian dari analisis dan perumusan kebijakan kesehatan. "Keterlibatan mahasiswa, dukungan pemerintah, serta koordinasi lintas sektor diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan dan penanganan ancaman kesehatan secara terpadu dan berkelanjutan," tutupnya.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.