08 May 2026

Get In Touch

Hantavirus Muncul di Kapal Pesiar, Epidemiolog Unair Tekankan Kewaspadaan Penyakit Zoonosis

Ilustrasi tikus penyebab hantavirus. (Pixabay)
Ilustrasi tikus penyebab hantavirus. (Pixabay)

SURABAYA (Lentera) - Kemunculan hantavirus di kapal pesial MV Hondius menyita perhatian publik usai WHO mengonfirmasi adanya 3 korban meninggal hingga awal Mei 2026. Menanggapi hal tersebut, Epidemiolog Unair menekankan perlunya kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis.

"Masa inkubasi hantavirus bisa mencapai beberapa minggu. Karena itu, gejala dapat muncul ketika seseorang sudah berpindah lokasi atau negara,” jelas Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani, Jumat (8/5/2026).

Menurutnya, hantavirus merupakan penyakit yang umumnya berasal dari paparan hewan pengerat terinfeksi. Virus ini tidak serta-merta menyebar di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar, melainkan kemungkinan sudah terbawa sejak sebelum perjalanan berlangsung.

Laura menjelaskan, kondisi tersebut membuat mobilitas individu yang melakukan perjalanan internasional berpotensi memperluas jangkauan deteksi kasus, meskipun sumber infeksi sebenarnya belum tentu berasal dari lokasi ditemukannya pasien.

Laura menuturkan hantavirus menular melalui partikel yang berasal dari urin, feses, maupun air liur hewan pengerat yang terinfeksi.

"Penularan dapat terjadi ketika seseorang menghirup partikel terkontaminasi di udara, terutama di area dengan sanitasi buruk atau populasi tikus yang tinggi," tuturnya.

Ia menegaskan, sebagian besar jenis hantavirus tidak menular antarmanusia. Namun, beberapa strain tertentu seperti Andes virus diketahui memiliki kemampuan transmisi terbatas antarmanusia sehingga investigasi epidemiologi tetap diperlukan untuk memastikan pola penyebaran kasus.

Selain faktor mobilitas manusia, perubahan lingkungan dan perubahan iklim juga dinilai memengaruhi penyebaran reservoir penyakit. Aktivitas manusia di wilayah baru, termasuk meningkatnya tren ekowisata dan eksplorasi alam, dinilai memperbesar risiko kontak dengan sumber zoonosis.

"Perubahan habitat hewan akibat faktor lingkungan dapat meningkatkan interaksi manusia dengan reservoir penyakit yang sebelumnya jarang tersentuh," tambahnya.

Secara klinis, hantavirus kerap diawali dengan gejala umum seperti demam, tubuh lemas, nyeri otot, hingga gangguan pencernaan. Karena gejalanya tidak spesifik, penyakit ini berisiko terlambat dikenali pada tahap awal.

Dalam kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi pneumonia serius, Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), hingga syok yang memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.

Laura menyebut bentuk berat infeksi hantavirus atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi.

"Pada kasus HPS, angka kematian dapat mencapai 30 hingga 50 persen apabila tidak ditangani dengan cepat," terangnya.

Untuk itu, Laura menekankan pentingnya penguatan sistem surveilans kesehatan dan deteksi dini, termasuk surveilans genomik untuk memantau perkembangan virus dan pola penyebarannya.

Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis Universitas Airlangga itu juga mendorong penerapan pendekatan One Health, yakni integrasi antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam upaya pencegahan penyakit zoonosis.

Menurutnya, penguatan sanitasi, pemantauan gejala pada pelaku perjalanan, serta komunikasi risiko yang efektif menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran penyakit di era mobilitas global saat ini.

"Ketika mobilitas manusia semakin tinggi, kesiapsiagaan sistem kesehatan dan kemampuan deteksi dini menjadi kunci agar kasus serupa tidak berkembang lebih luas," pungkasnya.

Reporter: Amanah/Editor: Santi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.