14 May 2026

Get In Touch

Belum Ditemukan Kasus Hantavirus di Surabaya, Dinkes Minta Masyarakat Waspada

Kepala Dinkes Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh.
Kepala Dinkes Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh.

SURABAYA (Lentera) - Meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit menular di sejumlah negara membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mulai memperkuat langkah antisipasi terhadap hantavirus. Meski hingga kini belum ditemukan kasus positif di Kota Pahlawan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya meminta masyarakat tetap waspada tanpa perlu panik.

Kepala Dinkes Surabaya, Billy Daniel Messakh mengatakan, hantavirus merupakan penyakit yang sudah lama dikenal di dunia medis dan bukan virus baru. Penularannya diketahui berasal dari tikus, namun kasusnya selama ini bersifat sporadis dan belum menunjukkan lonjakan penyebaran seperti penyakit menular lainnya.

"Hantavirus ini sebenarnya bukan penyakit baru. Sudah lama ada dan penularannya dari tikus. Sampai sekarang di Surabaya juga belum ada kasus yang terbukti positif," kata Billy dikutip Sabtu (9/5/2026).

Menurutnya, gejala hantavirus umumnya menyerupai flu biasa atau common cold, seperti demam, nyeri otot, dan gangguan pernapasan ringan. Karena itu, masyarakat diminta lebih memperhatikan kondisi kesehatan tubuh dan segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang tidak biasa.

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Surabaya mendorong pengaktifan kembali pemeriksaan suhu tubuh di sejumlah titik transportasi publik, seperti bandara, pelabuhan, dan terminal. Pemeriksaan dilakukan menggunakan alat pemindai suhu elektronik untuk mendeteksi lebih dini warga yang mengalami gejala demam.

"Kalau ada yang terdeteksi suhu tubuhnya di atas normal, tentu harus segera dipantau atau dilakukan langkah pengawasan lebih lanjut," ujarnya.

Selain pengawasan di pintu masuk transportasi, masyarakat juga diimbau kembali membiasakan pola hidup sehat, seperti menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga rutin, dan mencukupi waktu istirahat. Penggunaan masker di ruang tertutup maupun tempat ramai juga dianjurkan sebagai langkah perlindungan tambahan.

Billy menyebut, sejumlah negara di Eropa saat ini mulai kembali meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular dengan memperketat protokol kesehatan, termasuk penggunaan alat pelindung diri di area tertentu.

Di sisi lain, Pemkot Surabaya masih menunggu arahan teknis dari pemerintah pusat terkait mekanisme skrining hantavirus. Kementerian Kesehatan disebut tengah menyusun panduan resmi bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai langkah deteksi dan pengawasan penyakit tersebut.

"Kami masih menunggu guidance dari Kementerian Kesehatan terkait screening. Namun Pemkot Surabaya tetap aktif berkoordinasi dan menyiapkan langkah antisipasi," jelasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak. Namun jika harus beraktivitas, warga diminta tetap menjaga kebugaran tubuh dan menggunakan perlindungan diri saat berada di keramaian.

"Yang paling penting masyarakat tetap menjaga daya tahan tubuh. Olahraga rutin, makan bergizi, dan kalau berada di keramaian atau ruang tertutup sebaiknya menggunakan masker," tuturnya.

Sementara itu, bagi warga yang akan bepergian ke luar negeri, Dinkes Surabaya mengingatkan pentingnya melengkapi vaksinasi seperti meningitis, influenza, dan pneumonia sebagai perlindungan tambahan selama perjalanan. Layanan vaksinasi tersebut dapat diakses masyarakat melalui RSUD Dr. Soewandhie Surabaya.

"Untuk warga yang bepergian ke luar negeri, vaksinnya harus dilengkapi. Itu penting sebagai perlindungan," pungkasnya.

Reporter: Amanah/Editor: Santi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.