17 June 2026

Get In Touch

Belum Tersentuh Revitalisasi, Empat Pasar di Kota Malang Akhirnya Masuk Daftar Prioritas

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Eko Sri Yuliadi. (Santi/Lentera)
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Eko Sri Yuliadi. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mulai mematangkan rencana revitalisasi sejumlah pasar rakyat yang selama ini belum tersentuh revitalisasi total. Sedikitnya empat pasar masuk dalam daftar prioritas, mulai dari pasar tradisional hingga pasar wisata yang berada di kawasan bersejarah di Kota Malang.

"Saat ini terdapat 26 pasar rakyat di bawah pengelolaan Pemkot Malang. Dari jumlah tersebut, pasar tradisional yang belum kami renovasi secara total ada Pasar Blimbing, Pasar Besar, Pasar Tawangmangu, kemudian ada pasar wisata yaitu Pasar Talun yang berada di kawasan Kampung Kayutangan Heritage," ujar Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, Selasa (16/6/2026).

Menurutnya, keempat pasar tersebut telah masuk dalam skala prioritas pembangunan. Karena dinilai membutuhkan pembaruan infrastruktur agar mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat maupun pedagang.

Sebagai bentuk keseriusan, Eko mengaku pihaknya telah menyiapkan seluruh dokumen Detail Engineering Design (DED) sebagai dasar pelaksanaan pembangunan. Dengan selesainya tahapan administrasi tersebut, Pemkot tinggal menentukan skema penganggaran untuk merealisasikan proyek revitalisasi.

"Semuanya sudah tahap penyusunan DED. Tinggal nanti kami ajukan ke pimpinan untuk plotting anggarannya, apakah bisa direalisasikan tahun ini atau bergeser ke tahun berikutnya. Yang penting persiapan administrasi sudah kami siapkan," katanya.

Namun, Eko mengakui pelaksanaan fisik revitalisasi diproyeksikan lebih realistis masuk pada tahun anggaran berikutnya. Saat ini pihaknya masih mengajukan perencanaan agar proyek tersebut dapat memperoleh alokasi dana.

"Kami sudah mengajukan perencanaan dan proyeksinya pengajuan tersebut bisa masuk di tahun anggaran berikutnya," jelasnya.

Terkait konsep pembangunan, Eko menegaskan Pemkot Malang menginginkan model pasar rakyat yang lebih ramah bagi pedagang dan pengunjung. Konsep yang diutamakan adalah bangunan tidak bertingkat dengan tata ruang yang lebih luas sehingga aktivitas jual beli dapat berlangsung lebih nyaman.

Menurutnya, desain tersebut telah diterapkan di sejumlah pasar yang dinilai berhasil, seperti Pasar Klojen dan Pasar Oro-oro Dowo. Dengan konsep tersebut, masyarakat dapat mengakses lapak dengan lebih mudah tanpa harus berpindah lantai, sementara penataan kios menjadi lebih rapi.

"Idealnya pasar rakyat itu tidak bertingkat, bangunannya meluas seperti Pasar Klojen dan Pasar Oro-oro Dowo sehingga mudah dijangkau, mudah diakses, bisa langsung transaksi jual beli, serta tertata dengan baik," ungkapnya.

Selain meningkatkan kualitas layanan publik, revitalisasi pasar juga diharapkan berdampak pada peningkatan pendapatan daerah melalui sektor retribusi. Eko optimistis para pedagang akan lebih berkontribusi apabila pemerintah mampu menyediakan infrastruktur dan pelayanan yang memadai.

"Retribusi tentu mengikuti ketentuan perda. Targetnya pasti bertambah. Kalau pemerintah berkomitmen membangun pasar rakyat dan memberikan pelayanan yang baik, saya kira para pedagang juga akan berkontribusi terhadap retribusi," tuturnya.

Sebagai informasi, di tahun 2026 ini, Diskopindag Kota Malang menargetkan penerimaan retribusi pasar mencapai sekitar Rp10 miliar. Hingga memasuki pertengahan tahun, realisasi tersebut telah mencapai sekitar 40 persen, Eko meyakini pemerintah masih memiliki ruang untuk mengejar target melalui optimalisasi pelayanan dan pengelolaan pasar.

Reporter: Santi Wahyu

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.