12 July 2026

Get In Touch

Komisi III DPRD Palangka Raya Minta MPLS jadi Sarana Edukasi Komprehensif

Ketua Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Sigit Widodo
Ketua Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Sigit Widodo

PALANGKA RAYA (Lentera) - Momentum awal tahun ajaran baru diharapkan menjadi fondasi pembentukan karakter peserta didik sekaligus membekali mereka, agar siap menghadapi berbagai tantangan yang saat ini semakin dekat dengan kehidupan remaja.

Ketua Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Sigit Widodo mengatakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) semestinya lebih dari sekadar kegiatan memperkenalkan ruang kelas, guru, maupun tata tertib sekolah.

"Masa MPLS hendaknya dimanfaatkan oleh sekolah sebagai sarana edukasi yang komprehensif, khususnya mengenai bahaya perundungan (bullying), penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang, serta penggunaan media sosial secara bijak," papar Sigit, Sabtu (11/7/2026).

Ia berpendapat, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini tidak hanya berasal dari lingkungan pergaulan secara langsung, tetapi juga dari ruang digital yang semakin sulit dibatasi.

Karena itu pembekalan sejak hari pertama masuk sekolah menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran dan kekuatan mental para siswa.

Materi tentang bahaya bullying, narkotika, obat-obatan terlarang, dan penggunaan media sosial harus mendapat perhatian dalam MPLS.

"Edukasi sejak dini sangat penting agar siswa memiliki pemahaman yang baik dan mampu menjaga diri dari berbagai pengaruh negatif," jelasnya.

Sigit menegaskan, praktik perundungan dalam bentuk apapun tidak boleh mendapat ruang di lingkungan pendidikan.

Sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan inklusif sehingga setiap anak dapat belajar, berkembang, dan meraih prestasi tanpa rasa takut.

Selain itu ia menyoroti pentingnya literasi digital di kalangan pelajar. Penggunaan media sosial yang tidak disertai pemahaman yang baik dapat memicu berbagai permasalahan, seperti penyebaran hoaks, perundungan siber, hingga paparan konten negatif yang dapat mempengaruhi perilaku remaja.

"Pihak sekolah hendaknya melibatkan guru, konselor, hingga pihak terkait dalam memberikan edukasi mengenai etika bermedia sosial, keamanan digital, serta cara memanfaatkan teknologi untuk kegiatan yang produktif dan mendukung proses belajar.

Tidak kalah penting, keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua memiliki peran besar dalam mengawasi aktivitas anak, terutama terhadap penggunaan gawai dan media sosial di luar jam sekolah.

Menurut Sigit, pengawasan yang dilakukan secara konsisten akan membantu anak lebih bijak dalam memilih pergaulan, menggunakan teknologi, serta menghindari pengaruh negatif yang bisa merusak masa depan.

"Semoga pelaksanaan MPLS tahun ini benar-benar bisa menjadi langkah awal dalam membentuk generasi muda yang disiplin, berintegritas, serta memiliki kepedulian terhadap sesama," pungkas Sigit.

 

Reporter: Novita/Editor: Ais 

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.