06 August 2026

Get In Touch

China Siapkan Misi Pembelokan Benda Langit

China Siapkan Misi Pembelokan Benda Langit

SURABAYA ( LENTERA ) - China mempercepat pembangunan sistem peringatan dini asteroid sebagai bagian dari upaya memperkuat pertahanan planet dari ancaman benda langit yang berpotensi menghantam Bumi. Sistem tersebut akan menggabungkan teleskop berbasis darat dengan konstelasi satelit di luar angkasa agar mampu mendeteksi asteroid berbahaya lebih cepat dan lebih akurat dibandingkan metode yang selama ini digunakan.

Pengembangan sistem itu diumumkan oleh China National Space Administration (CNSA) bertepatan dengan International Asteroid Day pada 30 Juni 2026. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang China untuk meningkatkan kemampuan pemantauan asteroid dekat Bumi (near-Earth asteroids/NEA), sekaligus mempersiapkan teknologi mitigasi apabila suatu saat ditemukan objek yang berpotensi bertabrakan dengan Bumi.

Kepala Ilmuwan Asteroid Monitoring and Early Warning Research Center CNSA, Li Mingtao, mengatakan hingga kini memang belum ada asteroid yang dipastikan akan menghantam Bumi dalam waktu dekat. Namun, menurutnya, ancaman tersebut tidak boleh dianggap sepele karena masih banyak asteroid yang belum berhasil ditemukan.

"Sejauh ini belum ada asteroid yang dipastikan akan bertabrakan dengan Bumi dalam waktu dekat. Namun, kekhawatiran terhadap risiko tumbukan bukanlah sesuatu yang tidak berdasar. Masih banyak asteroid dekat Bumi yang belum terdeteksi," kata Li Mingtao, seperti dikutip The Daily Galaxy.

 Teleskop Bumi dan Satelit Luar Angkasa

Sistem baru China mengusung pendekatan space-ground monitoring, yakni memadukan pengamatan dari permukaan Bumi dan luar angkasa.

Di darat, pemerintah China akan membangun sejumlah teleskop optik berdiameter besar di berbagai lokasi strategis. Sementara itu, di luar angkasa akan ditempatkan konstelasi satelit khusus yang mampu mengamati asteroid tanpa terganggu atmosfer maupun pergantian siang dan malam.

Keunggulan utama sistem tersebut adalah kemampuannya mendeteksi asteroid yang datang dari arah Matahari. Selama ini objek semacam itu sangat sulit diamati menggunakan teleskop di Bumi karena tertutup silau cahaya Matahari.

Keterbatasan inilah yang pernah menyebabkan meteor Chelyabinsk di Rusia pada 2013 luput dari pemantauan. Benda langit berdiameter sekitar 20 meter itu baru diketahui setelah memasuki atmosfer Bumi sebelum akhirnya meledak di udara. Gelombang kejut yang ditimbulkan memecahkan ribuan kaca bangunan dan melukai lebih dari 1.500 orang.

Li mengungkapkan bahwa hingga pertengahan 2026 para astronom telah mengidentifikasi lebih dari 40.000 asteroid dekat Bumi.
Menurutnya, sekitar 95 persen asteroid berdiameter lebih dari satu kilometer, yang berpotensi memicu bencana berskala global, telah berhasil dipetakan.

Namun situasinya berbeda untuk asteroid berukuran sekitar 140 meter. Meski lebih kecil, objek sebesar itu masih mampu menghancurkan wilayah seluas sebuah negara apabila menghantam permukaan Bumi.

"Baru sekitar 45% asteroid berukuran sekitar 140 meter yang berhasil dideteksi," ujar Li.
Karena itu, China menilai dibutuhkan sistem pemantauan yang jauh lebih sensitif agar asteroid semacam itu dapat ditemukan jauh sebelum mendekati Bumi.

Selain meningkatkan kemampuan deteksi, China juga tengah menyiapkan misi pembelokan asteroid menggunakan metode kinetic impactor, yaitu menabrakkan wahana antariksa ke asteroid untuk mengubah lintasan orbitnya sehingga tidak mengarah ke Bumi.
Teknologi tersebut mengadopsi konsep yang telah dibuktikan melalui misi Double Asteroid Redirection Test (DART) milik NASA pada 2022.

Dalam misi tersebut, pesawat ruang angkasa DART sengaja ditabrakkan ke asteroid Dimorphos. Hasil pengamatan NASA bersama Badan Antariksa Eropa (ESA) menunjukkan tabrakan itu berhasil mengubah periode orbit Dimorphos sekitar 33 menit, menjadi demonstrasi pertama bahwa manusia mampu mengubah lintasan benda langit melalui teknologi planetary defense.

China menargetkan demonstrasi teknologi serupa dilaksanakan dalam kerangka Rencana Lima Tahun ke-15, sekaligus memperkuat kemampuan nasional menghadapi potensi ancaman asteroid di masa depan.

Minta Data Dibuka untuk Dunia

Peneliti asteroid dari University of Helsinki, Anne Virkki, menilai pengembangan sistem oleh China dapat menjadi kontribusi penting bagi pertahanan planet secara global apabila hasil pengamatan dibagikan secara terbuka kepada komunitas ilmiah internasional.

"Jika China meluncurkan misi serupa, semoga misi itu memiliki kemampuan yang melengkapi sistem yang sudah ada dan datanya dibagikan secara terbuka, bukan hanya untuk ilmuwan China," ujar Virkki.

Ia menambahkan, para ilmuwan memperkirakan masih terdapat sekitar 100.000 asteroid dekat Bumi yang berpotensi menimbulkan kerusakan besar apabila menghantam planet ini. Namun hingga saat ini lintasan kurang dari separuh objek tersebut telah diketahui secara akurat.

Berdasarkan data NASA Center for Near Earth Object Studies (CNEOS), hingga 2026 telah ditemukan lebih dari 40 ribu Near-Earth Objects (NEO), dan tidak ada satupun yang diketahui memiliki peluang menabrak Bumi dalam waktu dekat. Namun NASA menegaskan pemantauan harus terus dilakukan karena masih banyak objek berukuran menengah yang belum teridentifikasi.

Sementara itu, European Space Agency (ESA) melalui program Planetary Defence Office juga terus mengembangkan jaringan teleskop Flyeye dan misi NEOMIR, teleskop inframerah berbasis ruang angkasa yang dirancang untuk menemukan asteroid yang datang dari arah Matahari, jenis ancaman yang selama ini paling sulit dideteksi dari Bumi.

Komunitas ilmiah internasional menilai semakin dini asteroid berbahaya ditemukan, semakin besar pula peluang manusia melakukan langkah mitigasi, baik melalui perubahan lintasan, evakuasi, maupun strategi perlindungan lainnya.

Karena itu, berbagai proyek pemantauan yang dikembangkan China, Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan negara-negara lain dipandang saling melengkapi dalam membangun sistem pertahanan Bumi menghadapi ancaman benda langit pada masa mendatang.(far,ist/dya)

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.