06 August 2026

Get In Touch

BRIDA Siapkan 100 Jenis Mangrove di KRM Gunung Anyar untuk Riset Biodiversitas Indonesia

Tanaman Mangrove di KRM Gunung Anyar.
Tanaman Mangrove di KRM Gunung Anyar.

SURABAYA (Lentera) -Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya menargetkan Kebun Raya Mangrove (KRM) Gunung Anyar memiliki 100 jenis mangrove pada 2027.

Target tersebut untuk memperkuat fungsi KRM sebagai pusat riset dan pengembangan biodiversitas mangrove di Indonesia.

Saat ini, Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar telah memiliki 74 jenis mangrove. Selain terus melakukan penanaman rutin untuk menambah populasi, BRIDA juga akan memperkaya koleksi dengan mendatangkan spesies mangrove yang belum dimiliki.

Kepala BRIDA Surabaya, Agus Imam Sonhaji, mengatakan pengembangan KRM kini tidak lagi hanya berfokus pada penambahan jumlah tanaman, tetapi juga pada peningkatan keanekaragaman jenis sebagai penunjang penelitian.

"Kalau populasi dari jenis jumlahnya kita terus bertambah, kan tiap tahun menanam terus," ujar Agus, Selasa (28/7/2026).

Untuk mencapai target tersebut, BRIDA berencana melakukan ekspedisi ke berbagai daerah yang memiliki spesies mangrove berbeda dari koleksi KRM Gunung Anyar.

"Kita berharap tahun depan jumlah jenis mangrove bisa bertambah menjadi sekitar 100. Nanti kita berburu atau ber-ekspedisi ke banyak tempat yang memiliki jenis mangrove yang belum ada di sini, kemudian kita tanam di KRM," katanya.

Menurut Agus, penambahan spesies mangrove bukan sekadar memperkaya koleksi tanaman, melainkan mendukung fungsi utama BRIDA sebagai lembaga riset dan inovasi.

"Pengampu Kebun Raya Mangrove ini adalah BRIDA. Core BRIDA adalah riset, sehingga harus menyediakan banyak spesies sebagai bahan penelitian," jelasnya.

Ia menuturkan, pengelolaan kawasan mangrove di Surabaya dilakukan melalui pembagian peran antarperangkat daerah. Kawasan mangrove di Romokalisari, Tambak Sarioso, Asemrowo, dan wilayah pesisir lainnya tetap difokuskan sebagai kawasan konservasi yang dikelola Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).

Sementara itu, BRIDA memusatkan pengembangan Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar sebagai kawasan riset dengan memperbanyak variasi jenis mangrove.

Kawasan konservasi tidak harus memiliki banyak jenis mangrove selama mampu membentuk ekosistem yang rapat dan berfungsi melindungi wilayah pesisir. Berbeda dengan KRM Gunung Anyar yang membutuhkan lebih banyak variasi spesies untuk menunjang penelitian.

"Kalau kawasan konservasi hanya memiliki sekitar 10 jenis juga tidak masalah, yang penting populasinya banyak dan mampu membentuk kerimbunan. Sedangkan di KRM, jenisnya harus diperbanyak karena menjadi bahan riset," jelasnya.

Meski memiliki fokus berbeda, Agus menegaskan pengembangan kawasan mangrove di Surabaya tetap dilakukan secara kolaboratif antara BRIDA dan perangkat daerah terkait.

"BRIDA fokus mengembangkan riset di KRM, sedangkan kawasan konservasi dikelola bersama dinas terkait sesuai tugas masing-masing," pungkasnya.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.