08 August 2026

Get In Touch

Dampak El Nino di Jawa Timur, BMKG Prediksi Kemarau Lebih Panjang dan Kering

Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno. (Santi/Lentera)
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Fenomena El Nino diperkirakan memberikan pengaruh, terhadap pola musim di Jawa Timur pada tahun 2026 ini.

Dampak utamanya menyebabkan kondisi musim kemarau menjadi lebih kering dan panjang, berpotensi memperlambat datangnya musim hujan.

"Musim kemarau tetap akan terjadi meskipun tanpa El Nino. Itu merupakan siklus tahunan. Hanya saja, ketika ada El Nino, musim kemarau biasanya menjadi lebih kering dan durasinya berpotensi lebih panjang," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, dikutip pada Jumat (7/8/2026).

Menurutnya, berdasarkan informasi yang sebelumnya dirilis BMKG pada Maret 2026 lalu, fenomena El Nino mulai berkembang pada pertengahan tahun 2026 ini. Waktu kemunculan tersebut bertepatan dengan berlangsungnya musim kemarau di Jawa Timur sehingga dampaknya diperkirakan lebih terasa pada fase akhir musim kemarau.

Akibatnya, salah satu potensi yang perlu diwaspadai adalah mundurnya awal musim hujan.

"Karena kemunculan El Nino terjadi setelah pertengahan tahun, dampaknya kemungkinan lebih terasa menjelang penghujung musim kemarau. Salah satunya, awal musim hujan berpotensi menjadi lebih lambat," jelasnya.

Meski demikian, Anung menegaskan, kondisi tersebut bukan berarti hujan akan benar-benar berhenti selama musim kemarau. Menurutnya, dinamika atmosfer dalam skala mingguan masih dapat memicu terjadinya hujan di sejumlah wilayah.

Gangguan atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) maupun gelombang Rossby tetap dapat memengaruhi pembentukan awan hujan meskipun Jawa Timur sedang berada pada periode kemarau.

"Kondisi cuaca itu sangat dinamis. Di tengah musim kemarau tetap bisa terjadi hujan karena ada pengaruh MJO maupun gelombang Rossby. Sebaliknya, saat musim hujan pun bisa terjadi jeda hujan. Itu merupakan gangguan atmosfer berskala lebih kecil," terangnya.

Terkait wilayah yang terdampak, Anung mengatakan secara umum pengaruh El Nino dirasakan hampir di seluruh wilayah yang berada di selatan garis khatulistiwa, termasuk Jawa Timur. Namun, besarnya dampak dipengaruhi karakteristik geografis dan morfologi masing-masing daerah.

Ia mencontohkan, kawasan di lereng selatan Gunung Semeru maupun sekitar Gunung Lawu yang selama ini dikenal sebagai wilayah non-zona musim. Daerah-daerah tersebut secara klimatologis memiliki curah hujan yang relatif tinggi sepanjang tahun.

Karena itu, sekalipun dipengaruhi El Nino, wilayah tersebut masih berpeluang mengalami hujan, hanya dengan intensitas atau jumlah yang lebih sedikit dibandingkan kondisi normal.

"Daerah-daerah non-zona musim tetap berpotensi turun hujan meskipun ada El Nino. Hanya saja, curah hujannya memang cenderung lebih sedikit daripada biasanya," pungkasnya.

 

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.