07 August 2026

Get In Touch

Bukan Sekadar Mitos, Ini Risiko Stroke yang Perlu Diwaspadai Saat di Kamar Mandi

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sekaligus dokter spesialis neurologi. dr. Shelby Amrus Ernanda, M.Biomed., Sp.N.
Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sekaligus dokter spesialis neurologi. dr. Shelby Amrus Ernanda, M.Biomed., Sp.N.

SURABAYA (Lentera)— Kamar mandi ternyata bukan sekadar tempat untuk membersihkan diri, perubahan suhu yang terlalu cepat, kebiasaan mengejan saat buang air besar, hingga penyakit seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan jantung yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko kejadian stroke pada orang yang memiliki faktor risiko.

Kondisi tersebut menjadi perhatian dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), sekaligus dokter spesialis neurologi. dr. Shelby Amrus Ernanda, M.Biomed., Sp.N.

Berdasarkan pengalamannya menangani pasien selama lebih dari satu dekade, Shelby mengatakan, dirinya cukup sering menemukan pasien stroke yang mengalami gejala secara mendadak ketika berada di kamar mandi. Ada pasien yang ditemukan tidak sadar, sementara lainnya tiba-tiba mengalami kelemahan atau kelumpuhan anggota tubuh.

Menurut Shelby, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti kamar mandi secara langsung menyebabkan stroke. Namun, sejumlah kondisi yang dapat terjadi di kamar mandi berpotensi menjadi pemicu, terutama pada seseorang yang sudah memiliki faktor risiko penyakit pembuluh darah.

Shelby menjelaskan, perubahan suhu tubuh secara mendadak dapat memengaruhi respons pembuluh darah dan tekanan darah. Kondisi ini perlu diperhatikan terutama oleh orang dengan hipertensi yang tidak terkontrol atau memiliki gangguan pembuluh darah.

Pada kondisi tertentu, perubahan tekanan darah yang mendadak dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah pada pembuluh darah otak, termasuk stroke perdarahan pada orang yang memang memiliki kerentanan.

Selain itu, perubahan kondisi tubuh juga dapat memengaruhi sistem kardiovaskular. Pada sebagian orang dengan gangguan jantung tertentu, misalnya aritmia, irama jantung yang tidak teratur dapat meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah.

“Gumpalan ini persis seperti darah yang mengental menutup luka di kulit. Bedanya, gumpalan ini terbentuk di dalam jantung, lalu terbawa aliran darah menuju otak, tersangkut di pembuluh, biasanya yang besar, dan menyumbatnya. Inilah yang disebut stroke emboli,” jelas Shelby.

Ia menuturkan, stroke akibat sumbatan pembuluh darah atau stroke iskemik merupakan salah satu jenis stroke yang dapat menimbulkan gejala berat, terutama ketika pembuluh darah besar yang menuju otak mengalami penyumbatan.

Selain perubahan suhu, kebiasaan mengejan terlalu kuat saat buang air besar juga perlu diwaspadai. Saat seseorang mengejan, terjadi perubahan tekanan di dalam tubuh. Pada orang dengan kondisi pembuluh darah tertentu, peningkatan tekanan tersebut dapat menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya kejadian pembuluh darah otak.

Karena itu, Shelby menyarankan masyarakat tidak mengabaikan masalah sembelit. "Menjaga asupan serat, mencukupi kebutuhan cairan, serta rutin melakukan aktivitas fisik dapat membantu menjaga fungsi pencernaan dan mengurangi kebiasaan mengejan berlebihan," tuturnya.

Menurut Shelby, pencegahan stroke tidak selalu harus dimulai dari tindakan medis yang kompleks. Kebiasaan sehari-hari, termasuk ketika berada di kamar mandi, juga perlu diperhatikan.

Pertama, hindari perubahan suhu yang ekstrem. Masyarakat disarankan tidak menggunakan air yang terlalu panas atau terlalu dingin, terutama bagi orang yang memiliki penyakit jantung atau tekanan darah tinggi. Air dengan suhu yang nyaman bagi tubuh dapat menjadi pilihan.

Kedua, beri waktu tubuh beradaptasi. Ketika akan mandi, masyarakat dapat membasuh bagian tubuh secara bertahap, misalnya tangan dan kaki terlebih dahulu, sebelum membasahi seluruh tubuh. Tujuannya agar tubuh tidak mengalami perubahan suhu secara mendadak.

Ketiga, hindari perubahan suhu ekstrem setelah mandi. Pakaian atau handuk sebaiknya sudah disiapkan sehingga tubuh tidak terlalu lama terpapar udara dingin setelah selesai mandi.

Keempat, cegah sembelit. Konsumsi makanan berserat, minum air yang cukup, dan tetap aktif bergerak untuk membantu menjaga kelancaran buang air besar sehingga kebutuhan mengejan dapat diminimalkan.

"Kelima, kendalikan faktor risiko stroke. Ini merupakan langkah yang paling penting. Tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, obesitas, serta penyakit jantung perlu dikendalikan melalui pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan secara berkala," ucapnya.

Shelby menekankan, masyarakat juga perlu mengenali tanda-tanda stroke dan tidak menunda pertolongan ketika gejala muncul. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain wajah mencong, kelemahan atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh, serta gangguan bicara yang muncul secara tiba-tiba.

“Stroke di kamar mandi bukan takdir yang datang tiba-tiba tanpa jejak. Ia adalah akumulasi dari kebiasaan kecil yang kita anggap remeh, bertemu dengan satu momen ketidakhati-hatian. Mengubah cara kita memasuki kamar mandi, pelan-pelan, sadar, penuh perhatian pada tubuh sendiri, mungkin terdengar sepele. Tapi dari yang sepele itulah, seringkali, sebuah nyawa terselamatkan,” tegasnya.

Menurutnya, edukasi mengenai stroke perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak hanya mengetahui cara memberikan pertolongan ketika stroke terjadi, tetapi juga memahami bagaimana mengurangi faktor risikonya sejak dini.

Kesadaran tersebut penting karena pencegahan stroke pada dasarnya tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah mengalami gejala. 

"Mengontrol tekanan darah, menjaga pola makan, aktif bergerak, berhenti merokok, serta rutin memeriksakan kondisi kesehatan merupakan langkah yang dapat dilakukan jauh sebelum keadaan darurat terjadi," tutupnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

 

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.