08 August 2026

Get In Touch

Sebanyak 2,21 Juta Anak Indonesia Terindikasi Tekanan Darah Tinggi, DPRD Jatim Minta Perhatian Pemerintah Pusat dan Daerah

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso.

SURABAYA (Lentera) – Sebanyak 2,21 juta anak usia sekolah dan remaja di Indonesia terdeteksi memiliki tekanan darah di atas normal. Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, mengatakan temuan tersebut merupakan persoalan berskala nasional yang perlu menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah.

“Saya rasa itu se-Indonesia ya. Dan ini juga sudah diperkirakan oleh pemerintah pusat sebetulnya, tidak hanya pemerintah provinsi,” ungkap Cahyo, Sabtu (08/08/2026).

Menurut Politisi Gerindra tersebut, pemerintah pusat dan pemerintah provinsi saat ini terus menjalankan langkah antisipasi melalui skrining kesehatan secara masif dan kampanye gaya hidup sehat.

“Bagaimana ke depan, kita bersama tidak hanya ingin CKG sebagai salah satu upaya promotif preventif kita. Kedua, gemar hidup sehat. Kita sedang menggalakkan itu kepada masyarakat,” katanya.

Cahyo menilai pola makan perlu menjadi perhatian dalam upaya menjaga kesehatan anak dan remaja. Menurut dia, pola hidup tidak hanya berkaitan dengan olahraga dan istirahat, tetapi juga makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

“Pola hidup itu tidak hanya kebiasaan olahraga atau kebiasaan istirahat dari mereka, tetapi pola makan kan juga pengaruh. Sedangkan kalau misalnya senang makan manis-manis dan sembarangan, intinya kan ya pasti potensi penyakitnya banyak,” tuturnya.

Ia menyoroti kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam, berminyak, dan tinggi gula yang dinilai dapat memicu berbagai penyakit pada anak dan remaja.

Karena itu, Cahyo mendorong adanya aturan yang mewajibkan setiap produk makanan mencantumkan informasi nilai gizi secara jelas. Menurutnya, informasi tersebut penting bagi masyarakat dalam menentukan makanan yang dikonsumsi.

“Kami secara pribadi berharap adanya regulasi yang mengatur tentang kewajiban mencantumkan nilai gizi dari setiap makanan yang dikonsumsi masyarakat kita. Kandungan gizi, karena itu sangat berpengaruh,” tegasnya.

Cahyo juga menilai upaya pencegahan tidak cukup dilakukan melalui layanan kesehatan. Edukasi mengenai pola hidup sehat, menurut dia, membutuhkan keterlibatan berbagai pihak hingga tingkat masyarakat.

Ia menyebut Dinas Kesehatan dan RSUD di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Timur, puskesmas, posyandu, kader-kader ibu KSH, serta kader PKH dari Kementerian Sosial perlu terlibat dalam upaya tersebut.

Cahyo juga meminta media ikut menyampaikan edukasi mengenai pentingnya pola hidup sehat kepada masyarakat.

“Ataupun teman-teman media untuk mengingatkan kepada masyarakat kita tentang pentingnya gemar hidup sehat,” pungkasnya. (*)

 

Reporter: Pradhita
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.