12 August 2026

Get In Touch

Anggota DPR Ahmad Dhani Apresiasi Kemajuan Surabaya, Ingatkan Seni dan Budaya Tak Terpinggirkan

Anggota Komisi X DPR RI Ahmad Dhani Prasetyo (tengah) saat berkunjung di Kantor DPRD Kota Surabaya.
Anggota Komisi X DPR RI Ahmad Dhani Prasetyo (tengah) saat berkunjung di Kantor DPRD Kota Surabaya.

SURABAYA (Lentera) — Anggota Komisi X DPR RI Ahmad Dhani Prasetyo mengapresiasi pesatnya perubahan Kota Surabaya dalam beberapa dekade terakhir.

Namun, di tengah pembangunan yang semakin maju, ia mengingatkan agar seni, musik, budaya, dan ruang kreativitas masyarakat tidak ikut terpinggirkan.

Hal tersebut disampaikan Dhani, saat mengunjungi Gedung DPRD Kota Surabaya, Selasa (11/8/2026). Dalam kunjungannya, ia melihat langsung deretan karya dalam Lomba Fotografi Jurnalis Dewan Surabaya (Judes) Indonesia sekaligus menjadi narasumber dalam agenda bincang santai.

Dhani menilai, Surabaya kini telah berkembang menjadi kota metropolitan dengan wajah yang jauh berbeda dibandingkan era 1990-an. Ia mengaku memiliki pengalaman panjang melihat perubahan kota tersebut sejak awal dekade 1990.

“Surabaya itu tidak kalah maju. Banyak daerah yang dulu kosong, tiba-tiba sekarang menjadi sebuah kota yang maju, penuh dengan gedung-gedung,” ujar Dhani.

Menurutnya, transformasi Surabaya tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari perubahan cara masyarakat luar memandang kota dan warganya.

Ia mengenang, sekitar tiga dekade lalu, warga Surabaya masih kerap mendapat stereotip sebagai anak daerah. Namun, seiring perkembangan kota, identitas Surabaya kini dinilainya semakin kuat dan memiliki daya tarik tersendiri.

“Dulu ada semacam anggapan bahwa anak Surabaya itu anak daerah. Sekarang mungkin tidak seperti itu. Surabaya sudah menjadi identitas yang menarik,” katanya.

Dhani juga menilai, karakter khas Surabaya, termasuk budaya dan logat masyarakatnya, justru menjadi bagian dari daya tarik kota. Ia kemudian melontarkan cerita ringan mengenai perubahan pandangan terhadap perempuan Surabaya yang memiliki logat Jawa.

“Dulu kalau ada perempuan Surabaya yang cantik tetapi logatnya Jawa, cowok-cowok Jakarta bisa mundur. Sekarang malah rebutan. Sekarang itu menjadi menarik,” ujarnya yang disambut tawa peserta bincang santai.

Dalam forum tersebut, Dhani berdiskusi bersama Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Surabaya sekaligus Ketua Pokja Judes Indonesia, Inyong Maulana.

Pembahasan berkembang dari perubahan wajah kota hingga persoalan sosial, budaya, karakter masyarakat, dan identitas Surabaya di tengah pertumbuhan kota-kota besar Indonesia.

Dhani juga mengapresiasi, sejumlah kepala daerah yang pernah memimpin Surabaya. Menurutnya, setiap periode kepemimpinan memiliki kontribusi terhadap perkembangan kota.

Ia secara khusus menyoroti era Tri Rismaharini sebagai wali kota. Menurut Dhani, perubahan lingkungan perkotaan Surabaya pada masa tersebut cukup terasa.

“Saya harus mengakui bahwa Kota Surabaya ketika Bu Risma menjadi wali kota mengalami perubahan yang nyata. Dulu Surabaya itu panas. Zaman saya memang panas. Sekarang jauh berbeda,” kata Dhani.

Penilaian tersebut juga dirasakan sejumlah rekannya yang baru pertama kali datang ke Surabaya. Mereka disebut memberikan respons positif terhadap kondisi kota saat ini.

“Beberapa teman saya yang belum pernah ke Surabaya, ketika pertama kali datang ke Surabaya, suka. Mereka bilang, ‘Ini memang Surabaya sekarang jauh berbeda dengan Surabaya di zaman saya’,” tuturnya.

Meski mengapresiasi kemajuan tersebut, Dhani mengingatkan pembangunan kota tidak boleh hanya berorientasi pada infrastruktur dan aspek fisik.

Menurutnya, pertumbuhan Surabaya perlu berjalan beriringan dengan penguatan ekosistem seni, musik, dan kebudayaan. Keberadaan ruang kreativitas, terutama bagi anak muda, dinilai penting agar kemajuan kota tetap memiliki karakter.

“Saya berharap fasilitas-fasilitas untuk dunia seni, musik, dan budaya tetap ada. Jangan sampai pembangunan kota justru membuat ruang kreativitas semakin jauh,” tegasnya.

Selain seni dan budaya, Dhani menyoroti, karakter masyarakat Surabaya yang dinilainya berani menyampaikan kritik secara terbuka. Menurutnya, keberanian warga memberikan masukan dapat menjadi modal penting dalam mengawal pembangunan.

“Kalau mengkritisi dan menyampaikan saran, mereka selalu to the point. Tidak bela-bela atau bagaimana. Saya yakin ini juga menjadi nilai tambah,” ujarnya.

Kunjungan Ahmad Dhani ke DPRD Surabaya sekaligus menjadi ruang untuk melihat keterkaitan antara perjalanan budaya, pembangunan kota, dan kehidupan politik. Berangkat dari Surabaya sebagai musisi hingga kemudian terjun ke dunia politik nasional, Dhani menyebut keberanian mengambil keputusan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

“Saya dari Surabaya, bermain musik di Jakarta, itu sudah sesuatu yang nekat. Kemudian masuk ke bidang politik juga nekat,” tutupnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

 

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.