SURABAYA (Lentera) – DPRD Jawa Timur mendorong transformasi industri jamu lokal agar tidak berhenti sebagai produk tradisional, tetapi berkembang menjadi produk obat bahan alam yang memiliki standar, daya saing, dan nilai ekonomi lebih tinggi. Penguatan ekosistem jamu tersebut disiapkan melalui Raperda tentang Obat Bahan Alam.
Juru bicara Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Jatim, H. Agus Cahyono, S.HI., M.HI., mengungkapkan pengembangan obat bahan alam diarahkan untuk mendorong peningkatan kualitas jamu menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT) hingga fitofarmaka.
"Peningkatan jamu menjadi OHT dan fitofarmaka ditempuh melalui standarisasi, saintifikasi, laboratorium, kompetensi SDM, serta fasilitasi CPOTB, registrasi, dan halal," ungkap Agus, Rabu (19/08/2026).
Menurut Agus, transformasi jamu lokal membutuhkan proses panjang yang tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga penguatan riset hingga tahap hilirisasi. Hasil penelitian nantinya diarahkan agar dapat dikembangkan menjadi produk yang siap diuji, dikomersialisasikan, dan dipasarkan.
"Riset diarahkan dari standarisasi menuju uji coba, komersialisasi, dan inkubasi," ujarnya.
Agus menjelaskan, penguatan ekosistem obat bahan alam membutuhkan dukungan lintas sektor, mulai dari pendanaan, perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI), fasilitas laboratorium, kemitraan dengan perguruan tinggi dan lembaga riset, hingga alih teknologi.
"Dukungan meliputi pendanaan, HKI, laboratorium, kemitraan perguruan tinggi, lembaga riset, dan usaha, serta alih teknologi untuk manfaat kesehatan dan ekonomi," katanya.
Selain aspek riset dan teknologi, DPRD Jatim juga memberikan perhatian terhadap pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) yang bergerak di sektor jamu. Pendampingan akan diberikan mulai dari perizinan, Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB), registrasi, sertifikasi halal hingga akses pembiayaan.
"UMK memperoleh pendampingan perizinan, CPOTB, registrasi, halal, dan pembiayaan. Pasar diperluas melalui digitalisasi, pameran, temu bisnis, serta misi dagang," ujarnya.
Agus menambahkan, pengembangan industri obat bahan alam juga harus berjalan dengan menjaga sumber daya hayati serta melindungi pengetahuan tradisional masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui konservasi, dokumentasi, dan perlindungan HKI.
Menurutnya, melalui penguatan ekosistem tersebut, jamu lokal diharapkan mampu berkembang menjadi produk kesehatan yang aman sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Jawa Timur.
"Targetnya meliputi produk aman, kenaikan kelas UMKM, ekspor, serta kontribusi ekonomi dan PAD," pungkasnya. (*)
Reporter: Pradhita
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)
