08 September 2026

Get In Touch

Telur Cangkang Cokelat vs Putih, Benarkah Gizinya Berbeda?

Telur Cangkang Cokelat vs Putih, Benarkah Gizinya Berbeda?

SURABAYA ( LENTERA ) - Telur menjadi salah satu bahan makanan yang hampir selalu tersedia di dapur. Harganya relatif terjangkau, mudah diolah, dan bisa menjadi sumber protein untuk berbagai kelompok usia.

Namun, ketika berbelanja di pasar atau supermarket, konsumen kerap dihadapkan pada pilihan telur bercangkang putih dan cokelat. Perbedaan warna ini kemudian melahirkan anggapan bahwa telur cokelat lebih sehat, lebih bergizi, atau memiliki kualitas lebih tinggi dibandingkan telur putih.Benarkah demikian?

Jawabannya adalah tidak sesederhana warna cangkangnya. Warna kulit telur bukan penentu utama kandungan gizi maupun manfaat kesehatannya. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menyatakan tidak terdapat perbedaan nutrisi yang signifikan antara telur bercangkang putih dan cokelat. 

Hal serupa dilaporkan VnExpress pada akhir Agustus 2026. Telur cokelat dan putih pada dasarnya memiliki kandungan nutrisi yang hampir sama. Faktor yang lebih menentukan justru ukuran telur, pakan ayam, serta metode pemeliharaan ayam.

Lantas, mengapa warna telur bisa berbeda?
Warna cangkang terutama ditentukan oleh genetika dan jenis ayam betina yang menghasilkan telur. Beberapa ras ayam menghasilkan telur putih, sementara ras lainnya menghasilkan telur cokelat. Ada pula ayam tertentu yang menghasilkan telur dengan warna berbeda, seperti biru atau hijau.

USDA menjelaskan bahwa ras ayam merupakan faktor utama penentu warna cangkang. Leghorn, White Rock, dan Cornish, misalnya, dikenal menghasilkan telur putih. Sementara Rhode Island Red, New Hampshire, dan Plymouth Rock termasuk ras yang dapat menghasilkan telur cokelat.

Meski genetika menjadi faktor utama, warna cangkang tidak selalu sama persis. Usia ayam, kondisi lingkungan, penyakit, stres, hingga kondisi pemeliharaan dapat memengaruhi intensitas warna cangkang.Artinya, warna yang lebih gelap tidak otomatis menunjukkan telur yang lebih berkualitas.

Anggapan bahwa telur cokelat lebih sehat daripada telur putih sebenarnya sudah lama beredar. Sebagian konsumen bahkan rela membayar lebih mahal karena menganggap warna cokelat sebagai tanda bahwa telur lebih alami atau lebih bernutrisi.

USDA secara tegas menyebut warna cangkang bukan faktor dalam menentukan kualitas telur. Nutrisi antara telur putih dan cokelat juga tidak menunjukkan perbedaan yang konsisten. 

Penelitian USDA terhadap berbagai jenis telur yang tersedia di pasaran juga menemukan adanya variasi kualitas dan komposisi berdasarkan metode produksi dan jenis pakan. Namun, tidak ada satu jenis telur, putih maupun cokelat, yang secara konsisten menjadi yang paling unggul dalam seluruh parameter yang diuji. 

Pakan Ayam Lebih Pengaruhi Gizi

Jika bukan warna cangkang, lalu apa yang lebih menentukan kandungan nutrisi telur?
Salah satu faktor penting adalah apa yang dikonsumsi ayam.

Ayam yang mendapatkan pakan yang diperkaya zat gizi tertentu dapat menghasilkan telur dengan kandungan nutrisi yang juga lebih tinggi pada komponen tersebut. Misalnya, pakan yang diperkaya asam lemak omega-3 dapat menghasilkan telur dengan kandungan omega-3 lebih tinggi.

Hal serupa dapat terjadi pada telur yang diperkaya vitamin tertentu.

Medical News Today juga mencatat bahwa sejumlah produsen menggunakan pakan yang mengandung flaxseed, alga, atau minyak ikan untuk meningkatkan kadar omega-3 pada telur. 

Karena itu, konsumen yang memang mengejar kandungan gizi tertentu sebaiknya membaca informasi pada kemasan, bukan sekadar melihat warna cangkang.

Label seperti omega-3 enriched atau vitamin enhanced dapat memberikan informasi lebih relevan mengenai karakteristik nutrisi telur.
Bagaimana dengan Telur Ayam Umbaran?
Metode pemeliharaan ayam juga sering dikaitkan dengan kualitas telur.

Telur dari ayam yang dipelihara secara bebas atau memiliki akses ke ruang terbuka disebut berpotensi mempunyai kandungan vitamin D lebih tinggi. Paparan sinar matahari pada ayam menjadi salah satu faktor yang diduga berperan dalam perbedaan tersebut. 

Namun, konsumen perlu berhati-hati dalam menyamakan label metode pemeliharaan dengan jaminan kandungan nutrisi yang lebih tinggi.

USDA menyebut belum ada bukti ilmiah definitif bahwa telur dari ayam free-range atau cage-free secara otomatis memiliki kandungan nutrisi lebih baik hanya karena sistem kandangnya.

Jadi, metode pemeliharaan bisa menjadi pertimbangan dalam memilih produk, tetapi tidak tepat jika langsung menyimpulkan semua telur dari sistem tertentu pasti lebih bergizi.

Mengapa Telur Cokelat Lebih Mahal?

Jika kandungan gizinya relatif sama, mengapa telur cokelat di sejumlah pasar justru dijual lebih mahal?Jawabannya bukan karena telur cokelat lebih bergizi.

USDA menjelaskan bahwa ayam penghasil telur cokelat rata-rata berukuran lebih besar sehingga membutuhkan lebih banyak pakan. Biaya produksi yang lebih tinggi tersebut kemudian dapat tercermin dalam harga jual. 

Medical News Today juga menyebut ayam yang menghasilkan telur cokelat cenderung berukuran lebih besar dan membutuhkan lebih banyak pakan. Faktor produksi inilah yang dapat membuat telur cokelat lebih mahal. 

Penjelasan serupa pernah disampaikan VnExpress. Harga telur cokelat tidak berkaitan dengan keunggulan gizinya, melainkan dapat dipengaruhi biaya pemeliharaan dan karakteristik ras ayam yang menghasilkan telur tersebut. 

Jadi, harga yang lebih tinggi bukan berarti kandungan proteinnya otomatis lebih tinggi.

Terlepas dari warna cangkangnya, telur tetap merupakan salah satu sumber pangan bergizi.
Satu telur standar mengandung sekitar 74 kalori, 6 gram protein, sekitar 5 gram lemak, dan kurang dari 1 gram karbohidrat. Telur juga mengandung vitamin A, biotin, selenium, serta kolin yang berperan dalam fungsi otak dan sistem saraf. Kandungan lutein dan zeaxanthin di dalamnya juga berkaitan dengan kesehatan mata. 

Protein telur juga dikenal sebagai protein berkualitas tinggi. Kandungan protein dapat berbeda sesuai ukuran telur. VnExpress, mengutip data nutrisi, menyebut telur besar sekitar 50 gram dapat menyediakan sekitar 6,3 gram protein, dengan sekitar 3,6 gram berasal dari putih telur dan 2,7 gram dari kuning telur. 

Menariknya, sebagian orang yang sedang diet atau berolahraga justru menghindari kuning telur karena khawatir terhadap lemak dan kolesterol. Padahal, kuning telur menyimpan sebagian besar vitamin dan mineral penting, termasuk vitamin A, D, E, B12, folat, selenium, kolin, serta antioksidan lutein dan zeaxanthin. 

Jika tujuan utama adalah mendapatkan nutrisi, konsumen sebaiknya memperhatikan kesegaran, ukuran telur, informasi pakan, serta label nutrisi apabila tersedia.

Pastikan pula cangkang telur bersih dan tidak retak, serta telur disimpan dengan cara yang tepat. USDA menekankan pentingnya kondisi cangkang dan kualitas bagian dalam telur sebagai aspek keamanan dan mutu pangan. (far,ist/dya)


Cara mengolah telur yang lebih sehat

Direbus
Salah satu cara paling sederhana karena tidak membutuhkan minyak.
Telur rebus tetap menyediakan protein, vitamin, mineral, kolin, dan nutrisi lainnya.
Pastikan telur matang dengan baik, terutama untuk anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.

Dikukus
Bisa menjadi alternatif telur rebus.
Cocok untuk membuat telur kukus atau steamed egg.
Tidak membutuhkan minyak sehingga relatif rendah kalori.

Dibuat telur orak-arik dengan sedikit minyak
Gunakan minyak secukupnya.
Bisa ditambahkan sayuran seperti bayam, tomat, brokoli, wortel, atau jamur agar kandungan serat dan mikronutrien makanan meningkat.

Telur mata sapi dengan sedikit minyak
Tetap bisa menjadi pilihan, tetapi sebaiknya hindari penggunaan minyak berlebihan.
Gunakan wajan antilengket agar kebutuhan minyak lebih sedikit.

Telur panggang
Telur dapat dipanggang bersama sayuran atau sumber protein lain.
Metode ini memungkinkan penggunaan minyak yang minimal.

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.