11 September 2026

Get In Touch

Benarkah Ring of Fire Makin Aktif?

Benarkah Ring of Fire Makin Aktif?

SURABAYA ( LENTERA ) - Rentetan gempa dan erupsi gunung api yang terjadi di sejumlah wilayah dalam waktu berdekatan kembali mengingatkan Indonesia pada satu kenyataan geologis jika negeri ini berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire.

Presiden Prabowo Subianto menyebut posisi tersebut sebagai konsekuensi geografis yang membuat Indonesia harus selalu siap menghadapi bencana geologi. 

Dalam periode yang sama, Indonesia menghadapi sejumlah aktivitas kebumian, termasuk gempa berkekuatan magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur, serta aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Namun, apakah rentetan kejadian tersebut menandakan Ring of Fire sedang mengalami peningkatan aktivitas? Jawabannya tidak sesederhana itu.

Wilayah Pertemuan Lempeng

Ring of Fire bukanlah lingkaran api yang secara harfiah mengelilingi Samudra Pasifik. Istilah tersebut merujuk pada zona panjang berbentuk menyerupai tapal kuda yang mengitari Samudra Pasifik dan menjadi salah satu kawasan paling aktif secara tektonik di Bumi.
Menurut Badan Oseanik dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA), aktivitas vulkanik yang tinggi di kawasan tersebut terutama berkaitan dengan zona subduksi.

Subduksi terjadi ketika dua lempeng tektonik bertemu dan salah satu lempeng yang lebih berat menunjam ke bawah lempeng lainnya. Proses tersebut tidak berlangsung tanpa konsekuensi.

Ketika lempeng menunjam ke bawah, kondisi tekanan dan temperatur di kedalaman Bumi dapat memicu proses yang berkontribusi terhadap pembentukan magma. Magma kemudian dapat bergerak naik melalui kerak dan, dalam kondisi tertentu, keluar ke permukaan sebagai erupsi gunung api.

Zona subduksi juga berkaitan erat dengan aktivitas gempa. Gesekan dan perubahan tegangan di sepanjang batas lempeng dapat menyebabkan energi dilepaskan dalam bentuk gelombang seismik.

Karena itu, kawasan yang berada di sekitar batas lempeng aktif memiliki potensi gempa dan aktivitas vulkanik yang lebih tinggi dibandingkan wilayah yang jauh dari batas lempeng.

Membentang 40 Ribu Km

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menjelaskan sebagian besar gempa bumi dan letusan gunung api tidak muncul secara acak. Banyak di antaranya terkonsentrasi di sepanjang batas lempeng tektonik.

Salah satu zona tersebut adalah Cincin Api Pasifik, tempat Lempeng Pasifik berinteraksi dengan sejumlah lempeng tektonik di sekitarnya.

Kawasan ini memiliki lebih dari 450 gunung berapi dan membentang hampir 40.250 kilometer. Jalurnya membentuk pola seperti tapal kuda, mulai dari ujung selatan Amerika Selatan, menyusuri pantai barat Amerika Utara, melewati kawasan Selat Bering, kemudian bergerak menuju Jepang hingga Selandia Baru.

Dengan karakter tersebut, Ring of Fire memang merupakan salah satu kawasan dengan aktivitas seismik dan vulkanik tertinggi di dunia.
Tetapi tingginya aktivitas tektonik kawasan ini bukan berarti setiap rangkaian gempa yang terjadi di sepanjang Pasifik menunjukkan adanya suatu "anomali" global.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan persepsi mengenai meningkatnya aktivitas Cincin Api perlu ditempatkan dalam konteks statistik kegempaan global.

Mengacu pada data USGS, sekitar 500.000 gempa terdeteksi di seluruh dunia setiap tahun. Angka tersebut mencakup gempa yang sangat kecil, bahkan tidak dirasakan manusia, tetapi dapat direkam oleh instrumen seismologi.

Sekitar 90 persen gempa dunia terjadi di kawasan Cincin Api Pasifik. Dengan demikian, secara kasar dapat terjadi sekitar 450.000 gempa per tahun di kawasan tersebut.
Jika dirata-ratakan, jumlahnya mencapai sekitar 1.200 kejadian gempa per hari.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa gempa di kawasan Pasifik sebenarnya bukan kejadian luar biasa. Yang kadang membuat publik merasa bumi sedang mengalami "lonjakan" aktivitas adalah munculnya beberapa gempa signifikan dalam rentang waktu berdekatan.
Daryono menyebut fenomena tersebut sebagai efek clustering atau klasterisasi waktu.

"Persepsi bahwa Cincin Api sedang lebih aktif biasanya dipicu oleh efek klasterisasi waktu, yaitu kondisi ketika beberapa gempa signifikan kebetulan terjadi dalam waktu yang berdekatan, serta kecepatan penyebaran informasi di media sosial yang membuat gempa di wilayah terpencil kini bisa langsung diketahui publik dalam hitungan menit," jelas Daryono.

Dengan kata lain, meningkatnya jumlah informasi mengenai gempa tidak otomatis berarti meningkatnya jumlah gempa secara tidak normal.

Media sosial membuat kejadian di wilayah yang sebelumnya mungkin hanya diketahui oleh masyarakat setempat kini dapat menjadi berita nasional bahkan global dalam hitungan menit.

Gempa besar Terjadi Secara Normal

Secara global, aktivitas gempa pada 2026 masih berada dalam kisaran fluktuasi statistik yang normal dan tidak menunjukkan angka di atas rata-rata historis jangka panjang, menurut penjelasan Daryono.

Gempa dengan magnitudo 7,0 atau lebih, misalnya, rata-rata terjadi sekitar 15 kali dalam setahun.

Sementara gempa bermagnitudo 6,0 atau lebih terjadi sekitar 130 hingga 140 kali setiap tahun.
Jumlah tersebut tentu tidak terbagi secara merata dari bulan ke bulan. Ada periode ketika gempa besar terjadi beberapa kali dalam waktu relatif berdekatan. Ada pula periode ketika jumlahnya lebih sedikit.

Fluktuasi semacam itu merupakan bagian dari dinamika alami Bumi."Dengan demikian, fluktuasi naik-turun jumlah gempa dalam skala bulanan atau tahunan adalah siklus alamiah bumi yang sepenuhnya normal dalam proses pelepasan ketegangan batuan, dan bukan indikasi bahwa bumi menjadi lebih tidak stabil belakangan ini," kata Daryono.

Bagi Indonesia, persoalannya memang berbeda. Negara kepulauan ini berada di salah satu kawasan tektonik paling kompleks di dunia.

Indonesia berada di sekitar pertemuan tiga lempeng tektonik aktif, yakni Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.
Interaksi antarlempeng tersebut menciptakan berbagai zona subduksi dan sesar aktif yang menjadi sumber gempa. Pada saat bersamaan, proses tektonik yang sama turut berkontribusi terhadap terbentuknya deretan gunung api di Indonesia.

Karena itu, keberadaan banyak gunung api aktif dan tingginya potensi gempa bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba pada 2026.

Ia merupakan konsekuensi geologi jangka panjang dari posisi Indonesia.
Namun, rangkaian gempa di berbagai wilayah dunia tidak serta-merta berarti Indonesia akan mengalami gempa besar.

Daryono menegaskan gempa yang terjadi di wilayah seperti Venezuela, Jepang, atau California tidak akan secara otomatis memicu gempa di Indonesia karena jaraknya sangat jauh dan sistem tektonik yang bekerja pada masing-masing wilayah berbeda.

"Karena Cincin Api Pasifik tidak mengalami anomali peningkatan aktivitas, maka tidak ada dampak luar biasa yang perlu dikhawatirkan di luar potensi kebencanaan rutin yang memang sudah menjadi karakteristik geografis kita," ujar Daryono.

Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa siap masyarakat dan pemerintah menghadapi gempa atau erupsi yang memang secara geologis dapat terjadi kapan saja.
Bagi Indonesia, Cincin Api bukan fenomena musiman. Ia adalah kondisi geologi yang melekat pada posisi geografis negara ini.

Karena itu, gempa dan erupsi bukan sesuatu yang seluruhnya dapat dicegah. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi korban dan kerugian melalui pemantauan, tata ruang berbasis risiko, sistem peringatan dini, bangunan yang lebih tahan gempa, jalur evakuasi, serta kesiapsiagaan masyarakat.(far,ist/dya)
 

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.