11 September 2026

Get In Touch

Penampakan Erupsi Anak Krakatau Terlihat dari Luar Angkasa…

Gunung berapi Anak Krakatau mulai meletus pada 4 Sep 2026, seperti yang terlihat di sini pada 5 Sep oleh satelit Landsat 8 yang dioperasikan bersama oleh NASA dan U.S. Geological Survey (USGS) (NASA Earth Observatory/Michala Garrison)
Gunung berapi Anak Krakatau mulai meletus pada 4 Sep 2026, seperti yang terlihat di sini pada 5 Sep oleh satelit Landsat 8 yang dioperasikan bersama oleh NASA dan U.S. Geological Survey (USGS) (NASA Earth Observatory/Michala Garrison)

SURABAYA (Lentera) -Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda, di antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, menunjukkan aktivitas vulkanik berupa erupsi yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026).

Letusan ini memicu semburan abu vulkanik serta lava, dan aktivitasnya berhasil terpantau secara jelas dari luar angkasa oleh satelit milik NASA.

Berdasarkan pengamatan citra satelit Landsat 8, yaitu satelit yang dioperasikan secara bersama oleh NASA dan U.S. Geological Survey (USGS), terlihat asap putih tebal membubung tinggi ke lapisan atmosfer.

Petugas gabungan dari tim NASA Earth Observatory dan USGS mengonfirmasi temuan citra tersebut.

"Plume atau asap putih yang membumbung tinggi tersebut diperkirakan terutama mengandung uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida, sementara abu serta puing-puing vulkanik membentuk awan cokelat di sekitar embusan gas tersebut," demikian laporan resmi NASA Earth Observatory yang dipublikasikan oleh Michala Garrison, dikutip dari laman Space, Rabu (9/9/2026).

Erupsi berdurasi hingga 25 jam ini tidak hanya melontarkan material vulkanik ke udara. Abu vulkanik juga tersebar hingga ke wilayah Provinsi Lampung dan Kota Jakarta. 

Dampak dari erupsi Anak Krakatau tersebut sempat melumpuhkan berbagai aktivitas warga di kawasan terdampak.

Sejumlah penerbangan terpaksa ditunda dan dibatalkan, aktivitas sekolah dihentikan sementara, serta kegiatan menangkap ikan bagi para nelayan setempat diimbau untuk dihentikan.

Meski rangkaian letusan utama telah mereda, gunung api ini dilaporkan masih terus aktif sepanjang akhir pekan dan memiliki potensi tinggi untuk kembali meletus dalam waktu dekat.

Bagian dari Cincin Api Pasifik

Mengutip Kompas, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sebenarnya bukanlah hal yang mengejutkan bagi para ahli geologi.

Gunung ini berada di kawasan jalur seismik aktif dunia yang dikenal sebagai Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.

Sabuk vulkanik ini membentang sepanjang 40.000 kilometer (25.000 mil) mengelilingi Samudra Pasifik dan menjadi rumah bagi lebih dari 750 gunung berapi aktif maupun tidur.

Jalur lempeng tektonik aktif ini diperkirakan telah terbentuk selama lebih dari 35 juta tahun dan menjadi pusat dari berbagai gempa bumi di dunia.

Di Indonesia sendiri, terdapat sekitar 500 gunung berapi dengan 127 di antaranya berstatus aktif, termasuk Gunung Anak Krakatau.

Secara sejarah, Gunung Anak Krakatau memiliki rekam jejak yang unik. Gunung ini mulai muncul dan tumbuh dari permukaan laut pada tahun 1927.

Kemunculannya berasal dari kaldera sisa letusan dahsyat Gunung Krakatau (Krakatoa) pada tahun 1883, yang dikenal sebagai salah satu bencana vulkanik paling mematikan dan paling menghancurkan dalam sejarah peradaban manusia (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.