20 September 2026

Get In Touch

Harga Pangan Fluktuatif, BGN Siapkan Marketplace MBG untuk Kendalikan Rantai Pasok

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, ditemui dalam kunjungan kerjanya di wilayah Kota Batu, Sabtu (19/9/2026). (Santi/Lentera)
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, ditemui dalam kunjungan kerjanya di wilayah Kota Batu, Sabtu (19/9/2026). (Santi/Lentera)

BATU (Lentera) - Badan Gizi Nasional (BGN) menyiapkan marketplace khusus untuk mendukung rantai pasok bahan pangan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini disiapkan di tengah fluktuasi harga sejumlah komoditas pangan, seperti ayam dan telur, yang turut memengaruhi pemenuhan kebutuhan bahan baku program tersebut.

"Betul (MBG dihadapkan dengan fluktuasi harga pangan), saya sudah ketemu dengan asosiasi pasar. Ada persoalan ayam harganya tinggi, telur harganya murah," ujar Kepala BGN Sudaryono, ditemui dalam kunjungan kerjanya di wilayah Kota Batu, Sabtu (19/9/2026).

Menurutnya, skala kebutuhan MBG yang besar membuat program tersebut menjadi pasar baru (emerging market) bagi komoditas pangan. Kondisi itu dinilai dapat memengaruhi dinamika pasar yang sudah ada.

Untuk merespons persoalan tersebut, BGN berencana membangun sistem marketplace yang dapat digunakan dalam pengadaan bahan pangan MBG. Sistem ini diharapkan membantu pemerintah memantau kebutuhan sekaligus kondisi pasokan komoditas di berbagai daerah.

Rencana marketplace tersebut sebelumnya juga disampaikan BGN sebagai bagian dari upaya membuat proses pengadaan bahan baku MBG lebih transparan, termasuk untuk mengetahui pemasok, harga, transaksi, dan aspek perpajakannya.

Sudaryono mencontohkan persoalan ketersediaan ayam di sejumlah wilayah di luar Pulau Jawa. Menurut dia, terdapat beberapa kabupaten yang stok ayam frozen maupun ayam dingin hampir tidak tersedia.

Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat membuat pengelola dapur MBG mencari pasokan ayam dari pemasok yang tersedia di pasar. Persoalannya, kualitas dan kesegaran bahan pangan yang diperoleh perlu tetap dipastikan.

"Di daerah di luar Jawa beberapa kabupaten itu stok ayam frozen atau ayam dinginnya hampir tidak ada. Itu kemudian menyebabkan orang membeli ayam asal di supplier pasar sehingga kadang ayamnya sudah tidak fresh dan lain sebagainya, yang menyebabkan gangguan," jelasnya.

Bagi Sudaryono, pembenahan rantai pasok tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi penerima manfaat. Ia juga menilai perputaran ekonomi yang muncul dari pelaksanaan MBG perlu memiliki tata kelola yang jelas.

"Saya kan alumni Kementan, maka penting bagi saya bukan hanya memenuhi kebutuhan gizi tetapi juga perputaran ekonomi harus jelas," katanya. (*)

 

Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.